Tampilkan postingan dengan label My Step Brother. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Step Brother. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 November 2017

My Step Brother - 6 (Ending)

Chapter 6 ( Ending)



Dua hari kemudian Bian membuka akun instagramnya. Gerahamnya segera saja bergemeletuk menahan geram ketika mendapati foto Hanna bersama seorang lelaki berambut coklat gelap. Lelaki itu tampan, dan sepertinya Hanna sangat senang di foto itu. Istrinya tersenyum lebar.

Sampai hari ini Hanna masih tidak bisa dihubungi. Bian membuang napas gusar. Perkataan Doni tentang laki-laki lain mengusik benaknya. Mungkinkah?

Tidak, Hanna-nya bukan gadis seperti itu. Hanna hanya bisa 'nakal' padanya. Tidak kepada yang lain. Ya, seharusnya begitu.

Bian meletakkan smartphone-nya. Ia mengambil handuk dan pergi mandi. Usai mandi dan berpakaian, ia melihat smartphone-nya lagi. Ada dua panggilan video tak terjawab pada whatsapp-nya dari Hanna, ia segera mem-video call balik.

Panggilan dijawab tidak sampai dua detik. Wajah segar Hanna terlihat di layar smartphone Bian.

“Kak—”

“Dari mana aja kamu?” Bian menyela, terlalu tajam hingga membuat Hanna tertegun lama.

“Hanna, cepatlah.” suara lain terdengar.

“Siapa itu? Kamu mengundang laki-laki lain ke tempatmu?”

Hanna menatap Bian lantas menghela napas, “Kakak kok marah sih? Aku—”

“Kakak serius, Hanna. Jangan main-main kali ini. Siapa laki-laki itu? Pacar kamu?”

“Kak!” Hanna menjerit tertahan, “kok nuduh aku gitu sih? Kakak tau aku gak mungkin selingkuh!”

Sorot mata Bian menajam, “Gimana Kakak bisa percaya kalau Kakak udah lihat foto kamu sama laki-laki lain, Hanna? Dan sekarang ada suara laki-laki di tempatmu. Laki-laki yang sama kan dengan yang di foto? Mau ke mana kalian? Hotel? Tidur bersama? Kenapa gak di situ aja?” cecarnya beruntun. Semua perkataan itu membuat Hanna tersakiti.

“Kakak lagi emosi, hubungin aku lagi nanti ya?” pinta gadis itu melirih.

“Jangan coba-coba matiin sambungan, Hanna. Atau Kakak gak akan hubungin kamu lagi.” ancam Bian dengan suara rendah.

“Aku tunggu telepon Kakak nanti. Dah,”

Bian menghempaskan smartphone-nya ke kasur. Dadanya panas sekali rasanya. Ia terbakar api cemburu.

Selepas panggilan video itu Hanna matikan, ia membuang napas berat. Kalimat Bian tersirat makna bahwa dirinya perempuan rendahan. Salahnya memang mengunggah foto itu hanya karena kesal kepada Bian. Ia akan meminta maaf, nanti ketika emosi Bian sudah stabil. Sekarang, ia bersama Jayden dan Jihan yang sudah menunggu di luar akan pergi mencari referensi untuk tugas membuat jurnal.

Tapi keegoisan mereka masing-masing membuat baik Bian atau pun Hanna tidak berinisiatif untuk menghubungi lebih dulu. Keduanya memilih menumpuk emosi dan rindunya masing-masing. Hari ini ujian semester Hanna berakhir, Hanna berpikir untuk langsung pulang ke flat-nya daripada pergi jalan-jalan seperti yang Jihan usulkan.

Oh, Hanna tidak mau menjadi nyamuk di antara dua sejoli yang baru saja meresmikan hubungan dengan bertunangan itu.

Di dalam kamar, Hanna menimang smartphone-nya. Seharusnya dalam beberapa hari ke depan Bian akan datang menemuinya. Tapi sampai sekarang, suaminya itu masih belum memberinya kabar juga.

Mendengar pintu flat-nya diketuk, Hanna berdiri dan membukanya. Ia membeku. Di depannya kini berdiri seseorang yang selalu dipikirkannya. Albian Mahesa.

Bian melangkah masuk lantas menutup pintu dengan kakinya. Tas punggungnya ia jatuhkan, untuk kemudian kedua lengannya memerangkap Hanna dan mencium gadis itu tanpa jeda. Menumpahkan semua emosinya dalam ciuman menggebunya.

Hanna tergeragap namun dengan cepat menguasai diri. Ia memegang rahang Bian untuk kemudian mengalungkan lengan di leher lelaki itu. Dilumatnya bibir atas Bian ketika lelaki itu sibuk dengan bibir bawahnya. Ciuman itu melembut untuk kemudian terhenti. Menyisakan panas membara di bibir Hanna. Gadis itu merengut melihat tatapan Bian masih saja tajam.

“Kangen,” ucapnya manja seraya merebahkan kepala di dada Bian. Ia memutar-mutar kancing kemeja Bian untuk kemudian melepasnya satu per satu.

“Kakak, kok diem?”

Bian menghela napas, ia menanggalkan kemejanya setelah semua kancingnya dilepas oleh Hanna.

“Jayden cuma temen. Dia udah tunangan malah, Kak. Kakak tuh yang selingkuh dari aku.”

“Kamu tau Kakak sayang banget sama kamu, Dek. Maafin Kakak ya?”

Hanna menggeleng, pelupuk matanya memproduksi air mata dengan cepat. Perkataan terakhir Bian yang menunjukkan kalau Hanna tidak lebih dari perempuan kotor sangat menyakiti gadis itu. Tapi ia tidak menangis. Ia baru berani menangis hari ini ketika ada Bian bersamanya.

“Maaf.” Bian menghalau air mata gadis itu, namun tetap saja air mata itu menganak sungai.

“Nggak dimaafin.”

Bian menghela gadis itu ke pelukannya, “Kok nggak? Perempuan itu juga temen, Sayang. Bukan Kakak juga yang ngunggah, tapi Doni.”

“Bohong.”

“Kakak nggak pernah bohong sama kamu. Maafin ya?”

Hanna tetap menggeleng, tidak mau memaafkan. Kesalahan Bian sudah mengoyak hatinya. Tapi, salahnya juga sih....

“Ya udah, kalau gak mau maafin. Kakak tau kamu kecewa banget. Tapi jangan nangis lagi dong.”

“Dimaafin kok.” Hanna berucap lirih. “maafin aku juga.”

“Selalu, Sayang.” Bian mendongakkan kepala Hanna. Dikecupnya jejak air mata di pipi gadis itu seraya disekanya lembut. Di atas bibir Hanna, ia menyarangkan kecupan ringan. Hal itu juga ia lakukan di leher Hanna.

“Kak, aku belum mandi.”

“Mandi bareng aja nanti.”

Bian mendorong Hanna terlentang di kasur dengan setengah menindih gadis itu. Ia membuka sepatu yang gadis itu kenakan, lantas melarikan jemari ke betisnya. Ia menatap Hanna, menyeringai. Jemarinya terus membelai ke paha Hanna, tanpa membuang waktu ia melepaskan celana dalam gadis itu. Hanna yang memakai rok memudahkannya melakukan hal itu.

Ketika tangannya menyentuh milik Hanna, gadis itu mendorongnya. Hanna menduduki bagian tubuhnya yang mengeras dengan cepat. Gadis itu menunduk dan menciumi dadanya. Hanna bahkan dengan berani menggigit putingnya. Membuatnya menahan erangan di tenggorokan.

Hanna beralih ke leher Bian. Ketika mendongak, ia tersenyum nakal. Ia menunduk lagi, mencium Bian tepat di bibir. Satu tangannya bergerak ke bawah. Melepas kancing jeans Bian dan menurunkan resletingnya.

“Dek,” Bian mengerang lambat. Ia menyusupkan tangan ke balik kaos Hanna, hendak mengangkatnya ke atas ketika bel pintu berbunyi. Hanna langsung melompat turun dari tempat tidur dan berlari ke pintu.

Bian menghela napas gusar. Ia memperbaiki posisi celananya kemudian menyusul Hanna ke pintu. Disergapnya tubuh gadis itu dari belakang. Ia menumpukan dagu di pundak Hanna, menatap tak suka pada lelaki yang ada di foto. Ia cemburu terlepas dari kenyataan bahwa lelaki itu telah bertunangan.

“Aku mengganggumu, ya?” Jayden mengerling kepada Hanna.

“Ya.” Bian menjawab dingin.

“Kak!”

Bian menghela napas, ia menghidu aroma khas Hanna melalui rambut gadis itu.

“Ya sudah, aku pulang dulu. Selamat bersenang-senang, Hanna.”

Ketika pintu ditutup, Bian langsung menyandarkan Hanna di sana. Ia melepas kaos Hanna berikut bra yang gadis itu pakai.

“Kakak gak sopan tadi.”

“Kakak gak peduli.” Bian mencium bibirnya. Kedua tangannya meremas buah dada Hanna. “Roknya ganggu, Sayang.” bisiknya di sela ciumannya.

“Lepasin dong.”

Bian mengerang, antara jengkel dan nikmat saat Hanna tiba-tiba berlutut di depannya. Ia tak mau berlama-lama, langsung menanggalkan celananya.

Hanna memegang milik Bian. Ia menatap benda hidup itu takjub. Tidak menyangka bahwa di dalam celananya, Bian menyembunyikan benda itu.

“Dek—hh,”

Hanna melakukan hal yang membuat Bian linglungsekaligus kebingungan.

“Dek, kamu, ahh.. belajar dari mana?” Bian mengepalkan tangan di rambut Hanna. Ia menahan kepala gadis itu dan membawanya berdiri. Bukan mulut gadis itu yang ia inginkan saat ini.

“Belajar dari mana?”

“Nonton.” jawab Hanna luar biasa santai.

Bian menghela napas, “Jangan nonton film itu lagi, oke?” ia hanya khawatir otak Hanna tercemar.

Bagaimana kalau saat ia tak ada, Hanna malah mencari lelaki lain hanya karena tak bisa menahan diri setelah menonton film itu? Dan, Bian cemburu mengetahui bahwa bukan dirinya lelaki telanjang pertama yang dilihat Hanna.

“Kak, roknya katanya ganggu?”

Bian menatap gadis itu lalu terkekeh. Ia menurunkan rok Hanna. Dengan cepat ia menggendong gadis itu dan meletakkannya di kasur. Ia melebarkan paha Hanna, menempatkan diri di antara keduanya.

“Kamu siap kan, Dek?”

Hanna mengecup bibir Bian, “Aku gak bisa nunggu lagi.” bisiknya nakal.

“Sayang, ingatkan Kakak buat ngasih bibir nakal kamu hukuman nanti.” Bian mengarahkan miliknya.

Hanna menggelinjang, “Kakk,” ia merengek.

Bian mengarahkan miliknya, ia menahan pinggul Hanna lantas menyatukan diri dalam satu hentakan.

“Kak!” tubuh Hanna menegang. “kok sakit? Di film nggak.” protesnya cemberut guna menetralkan diri.

“Beda, Sayang.” Bian mengecup sudut mata Hanna yang berair. Tentu saja sakit, ini yang pertama untuk Hanna. Berbeda dengan di film. Dan ini juga baru baginya. Tapi, di dalam Hanna terasa menyenangkan.

Bian menggerakkan pinggulnya. Keluar dan masuk dengan hentakan konstan. Membuat Hanna yang awalnya meringis menjadi melenguh.

Hanna memeluk leher Bian. Desahannya terus mengalun.

Mengiringi gerakannya, Bian menandai istrinya dengan gigi di lehernya. Kedua tungkai gadis itu memeluk pinggulnya. Dadanya membusung tinggi, membuat Bian mengulumnya tanpa ampun.

Hanna melenguh nikmat. Ia meremas rambut lebat Bian. Pinggulnya bergerak selaras dengan gerakan lelaki itu yang naik turun menghujamnya kuat. Detik itu pinggulnya terangkat, ia mendesah panjang menyerahkan diri pada gulungan klimaks yang keras.

Bian masih bergerak. Ia mengubur wajah hingga geramannya teredam di ceruk leher Hanna. Tubuhnya ambruk di atas tubuh hadis itu.

“Makasih, Sayang.” Bian mengecup permukaan leher Hanna dengan lembut.

“Hmm,” Hanna menggumam sebagai balasan. Ia merebahkan kepala dengan malas di dada Bian. Oh, itu tadi sungguh hebat. Pengalaman pertama yang akan selalu Hanna ingat.

Bian mengusap lengan Hanna, sesekali mengecup puncak kepala gadis itu. Kini tanggung jawabnya semakin berat. Bukan tidak mungkin Hanna akan hamil. Selain Hanna, akan ada beberapa bocah mungil di antara mereka yang menuntut perhatiannya. Ia tak sabar untuk menunggu saat itu tiba.

Bersama Hanna, Bian telah menemukan kebahagiaannya. Kepada dirinya ia berjanji, bahwa ia akan berusaha untuk menciptakan keluarga yang harmonis. Menjadi suami yang baik untuk Hanna dan ayah yang baik untuk anak-anak mereka.

—SELESAI—

Khusus ebook yang bisa dibeli di playstore >> playbook ada chapter bonusnya yaaa :) 
Download ebook My Step Brother di sini

My Melody (LGS#2) 

My Step Brother - 4


Chapter 4

Acara pernikahan sudah selesai. Keputusan Hendri tidak bisa ditawar. Hanna benar-benar harus berangkat hari itu juga.

Mereka ada di dalam mobil yang Bian kemudikan, sedang dalam perjalanan ke bandara. Bian melirik gadis di sebelahnya yang mendadak murung. Padahal saat acara tadi, Hanna tidak berhenti tersenyum lebar.

“Dek, udah sampai.”

“Hah?” gadis itu tergeragap, “oh, kalau gitu aku berangkat, Kak.”

Bian menangkap tangan Hanna, “Pesawat kamu berangkatnya masih sekitar dua puluh menit lagi, Dek.”

“Apa bedanya dua puluh menit sama semenit atau sedetik? Aku juga akan tetap pergi.” Hanna berkata ketus, namun nadanya lemah.

Bian menghela napas. Ia mengerti perasaan Hanna. Ia pun tidak ingin berpisah lama dengan gadis itu. Terlebih Hanna adalah istrinya sekarang.

Tapi baik Bian atau pun Hanna tak bisa menentang keputusan Hendri. Bian juga setuju dengan keputusan ayahnya itu untuk menjauhkan Hanna darinya selama beberapa waktu. Supaya study gadis itu tidak terganggu. Supaya Bian fokus pada masa depan untuk menghidupi Hanna dan anak-anak mereka kelak.

Bian mengangkat pinggang Hanna dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya. Meski tempatnya sempit oleh kemudi, namun Hanna tak mencoba menjauh.

“Kakak janji akan nyusul ke sana secepatnya.”

“Kapan?”

“Nanti.” Bian memeluk pinggang ramping Hanna, “kasih ciuman dong, Dek. Kakak bakalan merana nanti kalau sekarang aja ciuman gak dapet.”

Hanna mendengus, “Kakak jangan macam-macam di sini. Jangan lirik-lirik perempuan lain. Jangan jajan di luar. Kalau mau kerja, ya kerja aja. Awas kalau Kakak ketahuan selingkuh. Aku bakalan minta cerai saat itu juga.” ujarnya panjang lebar.

“Adek, baru juga nikah masa udah ngomongin cerai sih? Biasanya tuh kita mesra-mesraan, ciuman kek, pelukan kek.”

“Tuh kan, Kakak tuh mesum banget. Kalau aku pergi, nanti Kakak main belakang lagi.” Hanna mencebikkan bibir.

“Kakak malah takut kamu yang kegoda lelaki lain di sana. Jangan ya, Sayang?” pinta Bian penuh harap, “pokoknya di sana kamu cuma kuliah dan belajar. Bajunya pakai yang tertutup, jangan keluar kalau bukan urusan penting. Ngerti?”

Hanna mengangguk-angguk saja.

“Kakak serius, Dek. Kalau kamu ngelanggar, Kakak susul kamu ke sana saat itu juga.”

“Beneran?” mata Hanna membulat penuh harap. Kalau memang begitu, ia akan melanggar pantangan dariBian.

“Jangan mikir macam-macam.”

Hanna kembali merengut.

“Mana ciumannya?”

Hanna memukul pundak Bian dengan kesal. Setelahnya, ia memeluk leher Bian dan memagut bibir lelaki itu. Semakin lama, Hanna semakin jelas merasakan tekanan di bawah pahanya. Dengan sengaja ia menggerakkan tubuh, membuat lilitan tengan Bian di tubuhnya menguat dan lelaki itu mengerang.

Hanna melepas ciumannya. Berganti ia mencium dagu hingga ke pangkal leher Bian. Jakun lelaki itu naik turun. Kedua tangannya meraba dada bidang Bian sebelum kembali memeluk lelaki itu dan menciumnya lagi. Di bawah sana, Bian semakin keras.

Merasa cukup, Hanna menyudahi aksinya. Bola mata Bian berkabut. Lelaki itu menyerangnya balik. Menghisap bibirnya dan meremas payudaranya. Tidak berlangsung lama karena Hanna segera menghentikannya. Ia menggenggam kedua tangan Bian dan memberi jarak.

“Dek, waktunya masih banyak. Gak bisa dituntasin dulu gitu?” Bian bertanya dengan wajah sengsaranya. Astaga, dia sudah sangat keras sekarang.

“Itu bekal selama aku nggak ada.” Hanna mengerling.

Bian menghela napas, lantas terkekeh meski suaranya masih serak.

“Awas kamu nanti. Kakak bikin kamu gak bisa jalan.”

“Nggak takut.” Hanna memeletkan lidah, meremas gundukan di bawah pahanya lalu buru-buru menyingkir dari pangkuan Bian.

“Adek!” Bian mendelik.

Hanna tertawa, “Nyabun aja. Awas kalau cari sarang lain. Yuk turun,”

Melihat Hanna turun dengan ekspresi cerahnya, membuat Bian mengusap wajah nelangsa. Lagipula, dari mana istrinya itu mengenal istilah 'nyabun' dan 'sarang'?

Bian menyimpan senyum. Ia membawakan koper milik Hanna dan menyusul gadis itu. Ketika tiba di sebelahnya, ia merangkul pinggangnya dan mengecup bibirnya.

“Kakak, malu!” Hanna menjerit tertahan.

“Kamu juga jangan cari burung lain, ya.”

“Kalau burung di sana lebih oke, kenapa nggak?”

Bian mendelik lagi, rahangnya mengetat. Kenapa Hanna jadi se'nakal' ini?

Pengumuman penerbangan terdengar. Hanna berhenti di depan pintu masuk. Ia memutar badan dan memeluk Bian.

“Bercanda, Kakak. Jangan marah.”

Bian membalas dekapan itu. Ia menghidu dalam-dalam aroma feminin Hanna. Jadi mereka benar-benar harus menjalani LDR begitu?

“Kak?”

“Hm?”

“Gak mau dilepas? Nanti aku ketinggalan pesawat.”

Bian mengurai pelukannya dengan tak rela. Masih sekitar enam bulan lagi ia akan menyusul Hanna. Haruskah ia nelangsa selama seratus delapan puluh malam ke depan?

Bian mengecup kening Hanna dengan lembut dan penuh perasaan. Ia tersenyum tipis.

“Gih masuk. Kakak gak akan cari sarang lain kok. Nunggu kamu aja.”

Hanna mengulum senyumnya, ia mengecup pipi Bian dan meraih kopernya di tangan lelakinya. Lantas menyeretnya masuk tanpa menoleh lagi. Kalau ia sampai menoleh, bisa-bisa bukan ke Singapore ia terbang, tapi ke pelukan Bian.

***

Download ebook My Step Brother lengkap di sini

My Step Brother - 3

Chapter 3

Selamat malam gaeesss 😁😁
Happy reading yee, ini ada plus-plus-nya. So, yg gak suka dan masih di bawah umur, silakan mundur!

***

Pintu rumah kontrakannya diketuk berulang kali. Bian yang tengah berkonsentrasi pada gambar pondasi bangunannya pun mendengus kesal. Orang gila mana yang bertamu ketika hujan deras? Jangan bilang itu Doni, kalau memang sahabatnya itu yang mengetuk pintu, Bian tidak akan segan memukulkan penggarisnya ke kepala lelaki itu.

“Kakak, lama banget sih. Dingin, tau!”

Bian tercengang di tempat. Buru-buru ia menyusul Hanna yang menerobos tubuhnya tepat setelah ia membuka pintu.

“Kakak, bajunya mana siih?” Hanna mengacak-acak isi lemari di kamar Bian. Kontrakan itu hanya sebuah rumah kecil dengan satu kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Jadi, walau pun Hanna tidak pernah ke sana, ia bisa dengan mudah menemukan kamar Bian.
Bian mengambilkan kaos lengan panjang berbahan tebal nan hangat, juga celana olahraga pendek miliknya. Hanna langsung menyambar dua potong pakaian itu sebelum Bian memberikannya.

Hubungan mereka membaik, menjadi amat sangat baik setelah kehisterisan Hanna sebulan yang lalu di kamar gadis itu. Saat ini, Bian sudah kembali ke Bali. Sudah seminggu ia di sana. Dan hari ini, gadisnya menyusulnya.

Bian meletakkan segelas susu coklat hangat di atas meja. Ia membereskan peralatan menggambarnya dengan cepat. Hanna tidak akan suka kalau ia lebih perhatian terhadap gambar-gambar denah, rencana kusen atau pun rencana atap itu.
Hanna langsung meminum susu coklat itu begitu ia selesai membereskan diri. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kursi.

“Kok dibolehin datang ke sini sendirian, Dek?”

“Maksa.” jawab Hanna cuek yang membuat Bian terkekeh. “lagian Ayah udah janji kok gak bakal ngelarang aku liburan ke mana pun kalau nilai ujian kelulusanku bagus-bagus.”

“Tadi sempat bingung gak nyari tempat ini?” Bian berpindah ke sebelah Hanna, ingin lebih dekat dengan gadisnya.

Gadisnya? Well, mereka backstreet. Sudah backstreet, LDR pula!

“Tadinya aku naik taksi, Kak. Pak supirnya nurunin aku di pinggir jalan gara-gara mobilnya mogok. Gak bayar sih, tapi kan kesel.” gadis itu meneguk susunya.

Bian yang memperhatikannya dari samping hanya tersenyum tipis. Sampai sekarang ia masih tak menyangka kalau bisa sedekat ini dengan Hanna. Bahkan gadis itu sekarang adalah kekasihnya.

“Diturunin gitu, jadi aku gak naik taksi lagi deh. Aku nyari ojek. Sama tukang ojeknya aku dibawa muter-muter masaaa.” gadis itu merengut, “mana kehujanan di jalan lagi, kan dingin. Untung aja abang ojeknya sempat nanya-nanyain alamat rumah ini ke orang-orang. Kalau nggak, gak bakalan aku ada di sini. Palingan juga masih muter-muter kayak anak hilang.”

Bian mengambil gelas di tangan Hanna dan meminum isinya yang tersisa sampai tandas. Ia menyingkirkan gelas itu. Merangkum wajah Hanna dan mengecup bibir gadis itu berkali-kali.

“Manis.” ujarnya di antara kecupannya, “kayak susu coklat. Bikin nagih.” ia mengedipkan sebelah matanya, menggoda.

Semburat merah muda menghiasi pipi hingga ke telinga gadis itu. Membuatnya nampak makin manis. Hanna tersenyum malu-malu, ia memegang tangan Bian yang menangkup kedua sisi kepalanya.

“Ayah curiga nggak sama hubungan kita?” Bian mengusap pipi Hanna dengan ibu jarinya.

“Nggak sih, kayaknya.” Hanna meringis.

“Nanti Kakak cari solusinya, ya.” jemari mereka Bian tautkan, “kamu dingin banget, Dek. Kakak ambilin selimut mau?”

Hanna tersenyum manis dan mengangguk. Gadis itu memerhatikan Bian yang segera berdiri. Niat usilnya muncul. Ia menyusul Bian ke dalam kamar. Lelaki itu berjongkok di depan lemari yang terbuka, sepertinya selimut yang dimaksud ada di tempat paling bawah.

Dengan langkah mengendap, Hanna bersiap menyergap Bian dari belakang. Namun gerakannya kalah cepat dengan Bian yang tiba-tiba berdiri dan memutar badan. Hanna terkejut dan terpekik kaget karena Bian mengangkat tubuhnya lantas melemparnya ke tempat tidur.

“Kak Biaan!” gadis itu cemberut total. Hendak bangkit dari posisi terlentangnya tapi Bian telah lebih dulu melingkupi tubuh mungilnya dengan tubuh besar lelaki itu.

Bian mengecup bibir Hanna, menjalar ke rahang hingga telinga gadisnya. Ia menatap Hanna lembut. Dibelainya pipi merona Hanna dengan jemarinya. Ia menyibak rambut di kening Hanna dan mengecup sayang di sana.

“Kak Bi,” Hanna menyentuh pundak Bian, dadanya berdebar kencang. Ia mendorong leher Bian padanya. Segera saja mereka berciuman.

Bian melumat bibir bawah Hanna, Hanna melumat bibir atasnya. Bergantian mereka saling menghisap. Bian menelusupkan lidahnya, bergelut dengan lidah Hanna, memberi jeda supaya Hanna mengambil napas dan menciumnya lagi.

Hanna meremas rambut Bian. Bibir lelaki itu di lehernya. Mengecup ringan dan menghembuskan napas hangatnya di sana. Menggigit kecil lantas menjilat bekas gigitannya.

“Ahh...”

Hanna mencengkram sejumput rambut Bian. Tubuhnya bergerak, lehernya menggeliat. Semakin gencar Bian menyerang area itu, membuat lenguhan tak tertahankan meluncur dari bibirnya.

“Kakak akan ikut pulang sama kamu.” Bian menatap gadis itu, menghentikan cumbuannya sebelum ia lepas kontrol, “Kakak mau ngelamar kamu sama Ayah.”

Pernyataan itu membuat Hanna terkejut. Ia menatap ke segala arah, kebingungan. Bian akan melamarnya?

“Kamu gak mau nikah sama Kakak?”

Bukan begitu. Hanna hanya takut ayahnya tidak memberi restu. Mereka memang bukan saudara kandung. Tetapi kemungkinan kedua orang tua mereka tidak setuju tetap ada.

Kalau ayah dan ibu tidak memberi restu, lantas apa?

“Aku gak mau pisah sama Kakak.” Hanna mengatakan ketakutannya, nyaris menangis. Ia mengubah posisinya menjadi setengah duduk dan bersandar.

Bian merebahkan kepalanya di dada Hanna. Ia memeluk Hanna erat. Kaki kanan gadis itu menyilang di atas pahanya. Hanna mengusap rambutnya, memberi kenyamanan padanya. Ia mengerti, mengerti akan kekhawatiran Hanna karena ia juga merasakannya.

“Gak tau kenapa, Kakak punya firasat baik sama hubungan kita.”

“Ayah berencana mempertemukan aku sama Jaya, Kak. Untung aku cepat kabur ke sini sebelum rencana itu berhasil.” ujar Hanna lirih, “kenapa saat itu Kakak setuju kalau aku jadi sama Jaya?”

Bian memejamkan mata, pelukannya makin erat di tubuh Hanna. “Kamu milik Kakak.”

Hanna tersenyum tipis. “Perempuan yang waktu itu, pacar Kakak ya?” tanyanya penasaran. Ia perlu berbicara untuk mendatangkan kantuk.

“Ya, setahun yang lalu. Sekarang udah nggak.” jawab Bian sekenanya.

“Kakak udah ngapain aja sama dia?”

Bian mendongak, ia menyeringai jahil, “Kalau kamu nanya apa Kakak pernah ML sama dia atau nggak, jawabannya nggak. Kakak maunya cuma sama kamu.”

Hanna mendengus. Bian kembali merebahkan kepalanya.

“Paling banter cuma ciuman, Dek. Enakan bibir kamu sih ketimbang—aw! Adek!” seru Bian lebay karena Hanna menarik daun telinganya dengan kuat.

“Gak usah lebay deh.” Hanna menggerutu. “salah sendiri punya otak kok mesum banget.”

“Salah kamu lah.”

Hanna mendeliki kepala Bian, lalu menghela napas kesal. “Kok aku?”

“Ya kamu. Kenapa kok cantik banget? Kenapa kok seksi gini? Kenapa kok bibir kamu manis? Kakak kan gak tahan jadinya pengen mesumin kamu terus.”

Tak perlu berpikir dua kali Hanna lagi-lagi menjewer telinga Bian. Lelaki itu mengaduh-aduh. Biarkan saja!

***

“Kenapa harus adik kamu sendiri, Bi?” Hendri menekankan kata harus pada ucapannya. Hari ini, tahu-tahu saja putrinya yang pamit liburan ke tempat Bian di Bali pulang bersama lelaki itu. Hendri curiga ada sesuatu di antara keduanya.

Pasalnya, Hanna tidaklah sedekat itu dengan Bian. Ia mulai curiga saat Hanna memaksa untuk menyusul Bian dengan dalih liburan. Baru sehari di Bali, sekarang Hanna sudah kembali bersama Bian.

Dan jawabannya adalah Bian melamar anak gadisnya.

“Kalian tidak tidur bersama kan?”

“Nggak, Yah.” Bian menatap mata Hendri tenang, “Bian mencintai Hanna. Kami saling mencintai, sejak dulu.”

“Ayah tidak percaya ini. Dari sekian banyak perempuan, kamu memilih adikmu? Dan kamu Hanna, dari sekian banyak laki-laki, kenapa harus kakakmu?”

Hanna menunduk, “Maaf, Yah.”

“Yang Bian mau cuma Hanna, Yah.” Bian meraih tangan Hanna yang duduk di sebelahnya dan menautkan tangan mereka, “Bian gak berniat menyembunyikan hubungan kami terlalu lama, Bian gak mau Hanna diambil laki-laki lain. Karena itu, Bian mohon restui kami, Yah.”

“Ayah sudah mengatur pertunangan Hanna dengan Jaya.” tandas Hendri datar.

“Ayah, Hanna gak mau sama Jaya.” pelupuk mata Hanna mulai berkaca-kaca. “kalau Ayah gak ngerestuin kami, Hanna bakalan ikut Kak Bian kabur dari rumah. Kami tetap akan nik—"

“Nggak.” Bian menyela. Hanna menatap lelaki itu tak percaya. Kenapa Bian keluar dari rencana yang telah mereka susun?

“Yah, bisa aja Bian ngehamilin Hanna. Bisa juga kami kawin lari seperti yang Hanna katakan. Tapi Bian gak mau jadi laki-laki brengsek yang memisahkan seorang anak dengan orang tuanya. Bian udah lebih dulu tau rasanya gak punya orang tua. Bian gak mau Hanna ngerasain hal yang sama. Bian menghormati Ayah dan Ibu. Kalau pun tindakan Bian kali ini salah, Bian mohon maafin Bian.”

Hendri menatap Bian. Sedikit banyak ia kagum dengan ketegasan suara dan kedewasaan Bian dalam berpikir. Namun ia juga kecewa dengan Bian. Ia tak masalah dengan perasaan Bian kepada putrinya. Yang ia masalahkan adalah waktu yang Bian pilih untuk jujur. Apa yang harus dikatakannya kepada Jaya dan Papanya?

"Besok kalian menikah. Usai acara, kamu Hanna, harus langsung berangkat ke Singapura. Selesaikan pendidikan kamu di sana sementara Bian memantapkan diri untuk menafkahi Hanna."

Hanna langsung menatap sang ayah, air mata mengalir membasahi pipinya, "Ayah...."

Bian tersenyum tipis, "Makasih, Yah."

Ayah mana yang tega mematahkan hati anaknya? Kalau pun ada, Hendri tidak termasuk di dalamnya.

***

Download ebook My Step Brother lengkap di sini

Fiiy

My Step Brother - 6 (Ending)

Chapter 6 ( Ending) Dua hari kemudian Bian membuka akun instagramnya. Gerahamnya segera saja bergemeletuk menahan geram ketika menda...