Kamis, 02 November 2017

Aries - Chapter 2



Chapter 2 - Ivanka Ristya

Ibunya menyimpan harta karun di salah satu kamar rumah itu. Kalau Aries tidak bangun pagi, ia tidak akan pernah melihat harta karun itu. Aries terpaku seperti orang bodoh. Harta karun itu menatapnya balik, hanya sekilas sebelum berbalik dan menyembunyikan diri di balik pintu.
Harta karun—maksud Aries, gadis itu sangat cantik. Ia adalah tipe yang menilai seorang gadis dari segi fisik dulu. Jadi jangan heran bila ada gadis cantik, radar player-nya langsung menyala.
Tidak, Aries bukannya tidak mengenal siapa gadis itu. Ia sangat mengenalnya. Ivanka Ristya. Gadis itu adalah gadis yang dulu sering diakuinya sebagai pacar. Gadis pertama yang ia cium tepat di bibir dan gadis yang menolak untuk dijodohkan dengannya.
Lalu, apa yang telah terjadi sampai gadis itu sekarang ada di sini? Di rumahnya?
Baru saja Aries hendak mengetuk pintu, pundaknya telah lebih dulu ditepuk dari belakang oleh ibunya.
“Tolong pergi ke pasar. Ibu sedang banyak pekerjaan.” ibunya menyodorkan tas yang berasal dari anyaman plastik, selembar kecil catatan dan sejumlah uang.
“Bu, aku ini laki-laki. Suruh Marni saja.” tolak Aries, tetapi ibunya bersikukuh. Mau tak mau ia menerima semua yang ibunya sodorkan dan pergi ke pasar tingkat.
Ah, bisa turun pamornya sebagai player sekarang. Mana ada player yang berkeliaran di pasar dengan tas belanja yang penuh dengan sayur? Sepertinya, Aries satu-satunya.
Di depan ibunya, entah karena apa sisi buruknya selalu tenggelam. Mungkin karena ia sadar bahwa ibu adalah sosok berharga yang harus dipatuhi. Jika begitu, mengapa ia masih saja bermain-main dengan banyak calon ibu di luar?
Ivanka Ristya. Aries hampir lupa akan gadis itu. Ia mempercepat acara belanjanya dan segera pulang. Ia bahkan tidak peduli jika ada satu atau dua barang yang belum dibeli. Ia terburu-buru karena ingin segera bertemu gadis itu.
“Bu, apa yang Ivy lakukan di sini?” tanyanya langsung begitu tiba di rumah.
Sang ibu yang sedang membongkar barang belanjaan berhenti dari kegiatannya. “Orang tuanya meninggal. Di waktu sebelum menutup usia, Mamanya menitipkannya pada Ibu. Kamu ingat kan, dulu kalian pernah dijodohkan tapi gagal? Itu tidak membuat mamanya tidak percaya lagi pada Ibu.”
“Om dan Tante meninggal? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
“Apa itu pantas ditanyakan oleh seorang anak yang enggan mengangkat telepon dari ibunya?”
“Tapi setidaknya aku harus diberitahu, Bu!” tutur Aries keras kepala, “Jadi aku orang terakhir yang tahu bahwa orang tua Ivy sudah tiada?”
“Mhm,” ibunya kembali sibuk dengan sayur-mayur dan sejenisnya yang berada di dalam tas.
“Aku tidak mau tahu, apapun yang berhubungan dengan Ivy, aku ingin Ibu memberitahuku!” tukas Aries otoriter. Bagaimana bisa ia ketinggalan berita tentang gadis itu?
“Ibu memang tidak pernah menyembunyikan apapun darimu. Kamu saja yang terlalu tidak mau tahu.”
Aries menghela napas, “Dia akan tinggal di sini kan?” karena ibunya mengangguk, Aries langsung memutuskan, “Aku juga.”
“Kalau tidak ada Ivy, kamu tidak akan tinggal di sini begitu?”
“Bu! Sudahlah, aku tidak mau berdebat dengan Ibu.” Lelaki itu pergi dari dapur. Di mana Ivy sekarang? Kasihan sekali gadis itu kini telah sebatangkara.
Aries melihat Ivy berada di teras, jadi ia menghampirinya. Gadis itu sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Aries menunggunya dengan duduk di kursi.
“Di Singaraja ... kamu mau ke sini? Ngapain? ... oh, kuliah ... mm, nggak tahu, mungkin aku akan kerja ... Iya, nanti aku kirim alamatnya. Dah,” gadis itu menutup panggilan, memutar badan dan terkejut.
“Mas Aries,”
“Nelepon siapa?” adalah pertanyaan pertama yang Aries ajukan dengan mata menyipit.
“Teman,” gadis itu menjawab tanpa ingin menjelaskan. “Mas Aries kapan pulang?”
“Kemarin.” Aries menatap gadis itu dari ujung kepala ke ujung kaki. Gadis itu sudah beranjak dewasa sekarang. Lebih tinggi dan lebih berisi dari terakhir kali Aries melihatnya. Tahu bahwa Ivy tak nyaman diperhatikannya demikian jelas, ia menyuarakan tanya, “Semalam kamu ke mana?”
“Di kamar.” Ivy menggumam. Sebenarnya ia tahu bahwa Aries datang kemari. Ia bertanya hanya untuk berbasa-basi saja. Rasa tak nyaman tiap kali dekat dengan Aries masih saja menggeluti dirinya meski sekian tahun tak berjumpa dengan lelaki itu.
“Kenapa nggak keluar?”
“Keasyikan main hape.” Jawabnya seadanya. Memang benar bila Ivy sudah berselancar di dunia maya, ia akan segera lupa terhadap apapun yang dirasanya tidak penting. “Aku mau bantu tante dulu, Mas.” Ia berpamitan.
Aries mengangguk saja. Ia sampai menoleh untuk melihat Ivy yang masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju dapur. Gadis itu kembali. Maka Aries tidak akan pernah melepaskannya lagi meski ia tahu bahwa Ivy kembali bukan untuk dirinya.
***
“Kamu sudah lulus SMA kan, Vy?” pertanyaan Aries memecah keheningan di antara mereka.
Setelah makan malam tadi, Aries mengekori langkah Ivy. Gadis itu berjalan ke teras, dan duduk di undakan di sebelah pilar rumah. Aries ikut mendudukkan diri di sebelah gadis itu. Ivy masih menyukai hal yang sama seperti dulu. Gadis itu senang sekali melihat bintang.
“Iya.”
“Mau kuliah?”
“Nggak tahu.”
Aries menatap gadis itu dari samping. Ivy tetap setia mendongak, tak mau melepas perhatian dari bintang-bintang di angkasa. Aries ikut mendongak, dan tak merasa mendapatkan ketertarikan untuk menatap ribuan bintang tak terhitung di sana.
“Kenapa nggak tahu?”
Ivy menunduk, melirik lelaki di sebelahnya melalui ekor matanya. Saat Aries menoleh, ia segera melepas kontak mata mereka.
“Oh iya, aku harus kuliah dan mendapatkan pekerjaan untuk hidupku ke depannya kan?”
“Kamu tahu bukan itu yang kumaksud.”
“Aku tahu.” Ivy menunduk lagi, “Aku Cuma nggak mau merepotkan Tante lagi.”
“Tidak ada yang akan direpotkan oleh kamu, Vy.”
“Tapi aku merasa seperti itu.”
Sampai beberapa menit selanjutnya, tidak ada di antara mereka yang bebicara lagi. Ivy kembali menatap bintang. Dan Aries masih tidak bosan menatap wajah ayu gadis itu. Apapun yang mungkin dulu telah ialakukan hingga membuat Ivy menolak perjodohan mereka, Aries kini menyesalinya.
Dering ponsel membuat Aries mencari dari arah mana suara itu berasal. Ternyata dari ponsel milik Ivy.
“Halo, Mif. Udah berangkat? ... besok ya? Iya, aku tunggu. Ya udah,”
“Siapa?”
“Teman.” Jawab Ivy tanpa mengalihkan perhatian dari ponselnya.
Dahi Aries berkerut menahan kesal karena diabaikan. Tangannya terulur, merebut ponsel Ivy dari tangan gadis itu.
“Mas! Apaan sih?” gadis itu berseru, menadahkan tangan meminta ponselnya dikembalikan, “Balikin.”
“Sebentar.” Aries mengotak atik ponsel itu. Ia melihat menu panggilan masuk. Nama Miftah ada di sana. Segera ia membuka aplikasi sosial media Ivy. Ada password yang melindungi keamanan aplikasi-aplikasi itu.
“Apa password-nya?”
“Mau apa?”
Aries menatap gadis itu tajam, “Password-nya, Ivy.”
“Nggak.” gadis itu menggeleng, “Itu hape aku. Balikin.”
Mereka sama keras kepala dan itu tidak baik untuk memecahkan masalah. Jadi Aries mengambil ponselnya sendiri dan melemparkannya ke arah Ivy. Gadis itu tergeragap menangkapnya, takut ponsel itu terjatuh membentur lantai.
“Pakai itu.”
“Ini kan....” Ivy mengangkat ponsel Aries ke udara, “Aku mau itu. Bukan yang ini.”
“Pakai atau jangan sama sekali.” lelaki itu berkata otoriter, lantas berdiri dan meninggalkan Ivy di sana.
Ivy menahan napas di dada, “Mas Ariesss!” jeritnya tertahan.
Aries yang baru tiba di pintu mengangkat kedua sudut bibirnya, tersenyum geli.
***
Ivy menganga melihat chat di semua aplikasi sosial media Aries. Pada akhirnya ia tak bisa menahan diri untuk tidak mengotak-atik ponsel lelaki itu. Jika Aries bisa memonopoli ponselnya, mengapa ia tidak?
Bola mata Ivy bergerak mengikuti gulir layar ponsel Aries. Aries masih Aries yang dulu. Bedanya, kini lelaki itu semakin parah. Semua chatting-nya tidak ada yang sehat.
Tidak hanya dengan satu wanita, tapi dengan banyak wanita sekaligus. Nama-nama para wanita itu nyaris identik. Ada nama Sindy 1 sampai 7, Lila 1 sampai 4, Mawar 1 sampai 12, dan masih banyak lagi. Ivy yakin bahwa Aries menamai kontak para wanita itu dengan sembarangan. Mana ada satu wanita yang mempunyai dua belas nomor telepon sekaligus?
Jeritan ngeri bersamaan dengan ponsel Aries yang terlempar refleks dari tangan Ivy adalah karena gadis itu baru saja memutar video yang Aries kirim ke salah satu wanitanya. Foto yang berisi hal-hal mesum hingga membuat wajah Ivy merah padam.
Astaga, Ivy memijit pelipisnya yang mendadak sakit. Dengan hati-hati ia mengambil ponsel Aries kemudian mengembalikan layarnya ke menu beranda.
Ivy akan mengembalikan ponsel itu dan meminta ponselnya kembali. Ini sudah dua hari sejak malam itu. Ivy sampai tak bisa menghubungi Miftah lagi. Karenanya, Aries harus dihentikan.
Ivy mengetuk pintu kamar Aries. Gadis itu menunggu sebelum kemudian mengetuk lagi. Tak lama berselang Aries pun membuka pintu kamarnya.
Ivy mendelik dan menjerit kecil. Tangannya terangkat menutup wajahnya sendiri. Aries berdiri bingung. Namun kemudian menyadari apa yang membuat Ivy menutup wajahnya.
Tubuhnya hanya dililit handuk dari pinggang ke lutut. Aries baru selesai mandi. Salahkan Ivy yang datang di saat yang ... tepat.
Aries menyeringai licik. Ia menarik tangan Ivy supaya gadis itu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
“Kenapa merem?”
“Mas nggak pakai baju! Cepat pakai!”
“Sudah.”
Tentu saja Aries berbohong. Tetapi toh Ivy percaya. Gadis itu membuka matanya. Bersamaan dengan itu Aries menarik pinggang gadis itu merapat pada tubuhnya.
“Tetap buka mata. Kalau nggak aku cium kamu.”
Wajah Ivy merah padam menyadari betapa tak ada jarak yang memisahkan mereka. Jantungnya bertalu kuat. Ia berkedip gelisah.
“Aku mau balikin hape.”
“Hape apa?”
Ivy mengangkat tangannya yang memegang ponsel Aries. Aries yang semakin mendekapnya membuatnya terkejut. Reaksi keterkejutan tubuhnya membuat ponsel Aries terjatuh dari tangannya. Namun Ivy tidak lagi memikirkan hal itu. Karena sekarang ia sudah risau sebab Aries mendekatkan kepala padanya.
“M-Mas....” Ivy mencicit, bola matanya bergerak gelisah.
Aries terpaku pada bibir itu. Ia menelan ludah melalui tenggorokannya. Ivy yang mencoba untuk menciptakan jarak ia gagalkan. Bukan gadis itu yang mendorongnya. Tapi ia yang berhasil mendorong gadis itu ke tempat tidur.
Aries menyusurkan hidungnya di leher Ivy. Dapat dirasakannya tubuh gadis itu menegang.
“Mas....”
Aries mengangkat kepala. Ia menatap mata Ivy, kemudian turun ke bibir gadis itu. Ia mulai menipiskan jarak di antara mereka.
Ivy menahan napas. Kepalanya menggeleng-geleng kuat menepis semua bayangan itu. Ia menatap langit-langit kamar. Menarik napas dan mengembuskannya berulang kali. Ya ampun, bisa-bisanya ia membayangkan semua itu.
Tapi, bukan tidak mungkin bila Aries melakukan hal itu jika Ivy nekad mendatanginya ke kamarnya bukan? Jadi, lebih baik Ivy menunggu Aries di ruang tamu saja untuk mencegah setiap kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
Ivy keluar dari kamarnya. Dengan membawa ponsel Aries ia duduk di ruang tamu. Kebetulan Tante Mira ada di sana.
“Gimana rencana kuliah kamu, Vy?”
“Jadi, Tan. Ini masih nunggu informasi dari teman.”
“Kenapa nggak minta bantuan Aries saja?”
Minta bantuan Aries? Oh, tidak. Terimakasih. Ivy terlalu berhati-hati untuk meminta bantuan buaya darat itu.
“Ivy nggak mau ngerepotin Mas Aries, Tan.”
“Merepotkan apa?” suara Aries menimpali diikuti tubuh lelaki itu yang duduk di sebelah Ivy. Lengan kanan Aries melintang di atas sandaran sofa, di belakang tubuh gadis itu. Sekarang Ivy menyesal karena duduk di sofa panjang.
“Ivy mau mendaftar di perguruan tinggi, tapi masih menunggu temannya.”
“Kamu bisa memintaku untuk mengantarmu. Di perguruan tinggi mana?”
“Nggak usah, Mas. Oh iya, aku mau bilikin ini.” Ivy menyodorkan ponsel Aries.
“Kita sepakat untuk bertukar, kan?”
“Kapan?” Ivy mengingat-ingat kapan kiranya ia setuju untuk bertukar ponsel.
“Malam itu. “
“Mas yang ambil paksa hapeku. Sekarang kembalikan. Mana?”
“Kamu pakai itu saja.”
Ivy menggeleng ngeri, “Aku nggak cocok pakai hape ini.”
“Kenapa?” Aries dan ibunya bertanya bersamaan.
Ivy menghela napas. Tidak mungkin ia katakan di depan Mira bahwa anak perempuan itu sering berkirim video porno dengan banyak wanita kan?
“Mm ... Soalnya di hape ini banyak kontak teman-temannya Mas Aries, Tan.  Kan Ivy nggak kenal. Jadi yaa....”
“Ooh,” Mira mengangguk paham. “Ya sudah, Aries. Sebaiknya kamu kembalikan hape Ivy.” Mira lantas berdiri kemudian meninggalkan ruangan itu.
“Jadi kamu sudah melihatnya?” Aries mengerling.
Ivy mendengus. Ia hendak pindah namun Aries merangkul pundaknya.
“Aku nggak mau debat sama Mas. Jadi tolong kembalikan hapeku.”
“Boleh. Tapi ada syaratnya.”
Ivy memandang Aries jengkel, “Itu kan hapeku. Memang milikku. Kenapa ada syarat?”
“Karena di sini aku yang berkuasa.” Aries tersenyum pongah, “Jadi kamu harus menuruti semua perkataanku.”
“Nggak sudi!”
Gadis itu lucu saat cemberut. Aries tidak akan bosan untuk terus memerhatikan perubahan ekspresinya.
“Ya sudah, jangan harap hape kamu kukembalikan.”
“Aku harus apa?” gadis itu bertanya setelah melepas napas pasrah.
“Cium aku.”
“Mas gila! Aku nggak mau!” serta-merta Ivy menolak.
“Terserah kamu. Biar kuberitahu kamu satu hal. Sepertinya, lelaki bernama Miftah itu sudah marah karena pesannya tidak pernah dibalas.”
“Oke!” Ivy merengut, “Mas tutup mata.”
Aries tersenyum kecil sambil menggeleng, “Aku harus memastikan kalau kamu tidak akan menipuku. Dan, ciumnya di bibir. Kurang dari satu menit tidak dihitung.”
“A-apa?” Ivy nampak paranoid, wajahnya memucat saat Aries memberinya pandangan menuntut. “Mas jahat!”
Namun Aries tak berniat memberi pilihan lain. Dengan air muka seperti menahan tangis, Ivy mendekatkan wajahnya. Supaya memudahkan gadis itu, Aries menunduk. Bibir lembut itu menempel di bibirnya.
Tidak perlu berpikir lagi bagi Aries untuk segera mencecap bibir itu. Ia memegang pinggang Ivy dan mengangkat gadis itu ke pangkuannya. Dengan menahan tengkuk gadis itu, ia mengambil alih kendali ciuman mereka.
Ivy menegang, tentu saja pikirannya tak sampai di sana. Aries melumat bibir atas dan bawahnya bergantian. Dan itu membuat perutnya seolah diterbangi banyak kupu-kupu. Decapan bibir mereka bahkan sampai ke telinganya. Membuatnya sadar bahwa ia telah membalas ciuman itu.
“Buka mulut, Vy.” Aries berbisik di sela lumatannya. Gadis itu menuruti perintahnya, dengan mudah ia membelitkan lidahnya ke lidah gadis itu.
Aries membelai pinggangnya. Lelaki itu mengeksplorasi rongga mulutnya. Membuatnya lemas bukan main. Ia merasakan tonjolan yang makin mengeras tengah didudukinya. Hal itu membuat segenap pikiran warasnya kembali terkumpul. Ia segera menyudahi ciuman panas itu.
Aries tersengal, pun dengan Ivy. Gadis itu menatapnya putus asa, seolah ciuman yang baru mereka lakukan adalah sebuah kesalahan.
“Vy,”
“Maaf, Mas.” Ivy menggeleng, gadis itu turun dari pangkuannya, “Hapenya?”
Aries mengembalikan ponsel gadis itu. Setelah mengambilnya, Ivy berlalu dari sana dengan dada tercekik. Yang ia khawatirkan telah terjadi. Tidak ada cara lain, ia harus menjaga jarak dengan Aries. Ya, sebelum semuanya terlambat.

lll


Aries - Chapter 1



Chapter 1 - Player

Erangan itu kian kuat, semakin kuat dan berakhir pada lolongan bak binatang yang telah mendapat kepuasan. Aries terduduk di lantai, tersengal dan berkeringat. Menakjubkan, ia selalu menyukai seks yang terburu-buru seolah dikejar waktu.

Gadis yang menjadi pasangannya segera membereskan pakaian yang telah kusut nan berantakan. Nina, Nani atau ... Naina? Aries bahkan telah lupa siapa namanya. Mana bisa ia mengingat nama gadis itu ketika yang terkumpul di dalam otaknya hanya tentang selangkangan?

“Agresif, seperti biasa.” Gadis itu mengerling pada Aries yang masih tidak peduli dengan keadaan celananya.

Aries menyeringai, “Tentu saja, Naina.”

“Nina.” Gadis itu meralat namanya dengan ekspresi cemberut.

Aries mengangkat alis seolah bertanya ‘benarkah?’ terhadap gadis itu. Nina menyipitkan mata, merasa kesal. Padahal, bukan hanya sekali dua kali mereka melakukan seks, namun Aries tidak juga mengingat namanya.

“Oh, maaf. Maksudku, ya, namamu Nina kan? Lidahku terlalu kelu untuk menyebutkan nama gadis sesempurna dirimu.” Lelaki itu mulai membual sambil mengancingkan celananya kembali.

Sambil tersipu gadis itu menjawab, “Aku tidak sesempurna itu.”

“Oh, kamu sangat sempurna. Kamu membuatku puas bukan kepalang, Nani.” Balas Aries sepenuh hati, tidak sadar bahwa nama yang disebutkannya salah sampai kepalanya tertoleh ke samping karena ditampar oleh tas yang saat itu Nina gunakan. Ia hanya menganga melihat gadis itu pergi sambil menyumpahinya.

“Ouh, Nina.” Aries mengerangkan nama itu dengan kesal sambil mengusap pipinya. Namun ia heran, mengapa para gadis itu mau-mau saja ditidurinya padahal mereka tahu bahwa ia penjahat kelamin? Sudahlah, setidaknya ia sudah puas hari ini.

Ponsel canggihnya bergetar. Nama ibunya tertera di sana. Aries menghela napas. Ia sangat malas untuk berbicara dengan sang ibu. Rumah adalah neraka baginya. Jika di kampus ada dosen killer, maka di rumahnya ada ibu killer—ibunya sendiri.

Mau bagaimana? Sama seperti ibunya, Aries juga tidak ingin bermain-main dengan banyak wanita lagi. Tapi ia tak bisa. Ia bersumpah bahwa wanita-wanita itu terlalu disayangkan bila hanya dilihat saja. Mereka layak untuk diapresiasi dengan diberi hadiah berupa kenikmatan seksual.

“Ya, Bu.” Aries mengangkat panggilan masuk itu. Ia berdiri lalu menepuk celananya yang mungkin kotor. Dengan mengapit ponselnya di antara pundak dan leher, ia mengenakan jaketnya. Lalu pergi dari atap salah satu gedung fakultas itu yang telah menjadi saksi bisu aksi mesumnya dengan Nani—oh, Nina.

“Kapan kamu akan pulang? Mau menunggu Ibu mati?” suara sarkastik itu segera menyahut.

Jika Aries menganggap rumah adalah neraka, maka tak mungkin kan bila ia mau tinggal di neraka? Ya, ia tak tinggal di rumahnya. Ia dan kedua temannya sepakat untuk menyewa kontrakan dan membayar sewanya bersama-sama.

Jika dihitung-hitung, maka sudah banyak hari yang berlalu tanpa Aries melihat wajah ibunya. Bila dipikir lagi, ia juga merindukan perempuan baya yang kantung matanya sudah berkerut itu. Tidak ada salahnya bila ia datang dan menginap selama semalam saja di rumahnya.

“Nanti sore aku akan pulang, Bu. Ibu mau kubelikan sesuatu?”

Meski sudah berusia lumayan tua, ibunya tetap saja matrealistis. Karena setelah Aries mengajukan pertanyaan itu, ibunya segera menjelaskan panjang lebar bahwa Aries harus membeli paket kosmetik jenis ini, baju ukuran ini bahkan juga sandal merk dan ukuran itu. Aries sampai pusing mendengarkannya.

“Baiklah, Bu. Sekarang aku harus masuk kelas. Sampai jumpa nanti sore di rumah.” Aries langsung menekan ikon berwarna merah untuk mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban ibunya.

Aries berbohong ketika berkata bahwa ia ada kelas saat ini. Ujian akhir semester baru kemarin selesai.  Untuk beberapa waktu ke depan, ia tidak akan memiliki jadwal sampai  kuliah kembali efektif di semester selanjutnya.

Ia hanya sudah malas mendengar celoteh ibunya. Biarkan telinganya menjadi sehat hari ini supaya ketika nanti ia tiba di rumah, ia sudah siap untuk diberondongi banyak omongan lagi. Sejak kematian ayahnya, ibunya menjadi makin cerewet padanya.

Aries mengambil motornya, ia mengendarainya menuju kontrakan. Di sana ada Virgo yang sedang mengunci pintu kamarnya sendiri. Nampaknya lelaki itu akan segera pergi.

“Gue mau pulang.” beritahu Aries sembari mendudukkan diri di kursi.

Virgo mengangkat alis, bertanya ‘ke mana?’ melalui isyarat. Sebab, Aries tidak pernah mengenal kata pulang sebelumnya.

“Ke rumah Ibu.” Aries meringis di tengah jawabannya.

“Akhirnya lo sadar juga.” Virgo mengangguk-angguk, “Berapa lama?”

Kening Aries berkerut sebelum lelaki itu menjawab, “Sepertinya menginap semalam sudah cukup, kan?”

Virgo terkekeh, ia berjalan ke arah pintu. Heran juga mengapa Aries yang masih memiliki Ibu bisa begitu saja mengabaikan keberadaan ibunya. Tidak tahu saja lelaki itu betapa nelangsa hidup tanpa satu pun orang tua.

“Gue pergi dulu.” pamit Virgo kemudian.

Selepas pintu tertutup dari luar, Aries berdiri untuk membereskan barang-barang yang nanti akan ia pakai di rumah. Ia memasukkan laptop beserta charger-nya, juga alat mandi yang telah tersimpan di dalam tas plastik kecil. Ia menarik laci, dan mengambil bungkus foil yang ada di sana. Siapa tahu nanti ia butuh benda itu kan? Atas pikiran mesumnya, Aries terkekeh sendiri.

Kapan kiranya ia akan setia pada satu wanita layaknya Leo? Aries tidak mengerti. Namun kebiasaan menjadi player seolah tidak mau berubah. Entah ia yang memang tak mau berubah, atau memang kebiasaan itu yang tidak bisa berubah.

Perjalanan dari Denpasar ke Singaraja tidak memakan waktu sampai dua jam. Aries menempuh perjalanan menggunakan motornya. Padahal hanya kurang dari dua jam untuk pulang, tapi yang ada, butuh waktu berbulan-bulan sampai Aries memijakkan kaki di rumahnya lagi.

Aries mengetuk pintu. Ibunya yang langsung membuka pintu tersebut untuknya. Perempuan itu menyipitkan mata. Daster yang digunakannya terlihat lusuh.

“Cari siapa, Mas?”        

Aries menganga lebar, “Buu,” ia mendengus jengah.

“Ibu lupa bahwa Ibu masih punya anak.”

Tidak sampai dua puluh empat jam sejak ibunya menelepon tadi, dan sekarang sang ibu sudah lupa padanya? Betapa mengesankan hal itu!

Ibunya mengibaskan tangan tak peduli. Aries masuk ke rumahnya mengikuti langkah sang ibu. Rumahnya hanya rumah sederhana peninggalan ayahnya yang dulu seorang dokter. Ya, Aries menyebut rumah dua lantai dengan beberapa kamar itu sederhana.

“Kamu membelikan yang Ibu minta?” ibunya tiba-tiba membalikkan badan.

Aries meringis, “Aku lupa. Nanti kubelikan.”

“Ibu sudah tahu kamu hanya berbasa-basi.” ibunya menghela napas, “Ya sudahlah, yang penting kamu pulang.”

Aries tersenyum kecil sebagai jawaban.

“Jadi akan ada yang membantu Ibu untuk mengantar belanja.”

Aries menganga lagi. Ia sudah berpikir bahwa ibunya teramat bahagia karena ia pulang. Ternyata, ia hanya diperlukan sebagai pembantu.

“Kamu akan menolak?” ibunya mendelik penuh ancaman, “Seorang lelaki tidak boleh hanya bisa bermain wanita, mengurus rumah juga harus bisa. Kalau nanti genteng rumah bocor, kamu akan menyuruh istrimu untuk memperbaikinya, begitu?”

See? Inilah yang Aries maksud rumah adalah neraka. Astaga, tidakkah ibunya merasa untuk membiarkannya menengok kamarnya dahulu sebelum mengomelinya?

Aries bersegera kabur setelah mengiyakan. Tidak mau lagi ibunya mengomel. Ibunya sudah tua. Ia khawatir bila ibunya terus berbicara akan membuat perempuan itu sesak napas.

Kamarnya masih sama seperti biasa. Asisten rumah tangga melakukan pekerjaannya dengan baik. Aries tidak memiliki saudara. Ia anak tunggal, karena itu ibunya selalu cerewet setiap ia jarang sekali pulang. Meski perjalanan dari Singaraja ke Denpasar tak memakan banyak waktu, Aries tetap tidak akan tinggal dengan ibunya.

Tinggal di rumah sama seperti di penjara. Sedangkan Aries adalah pribadi yang bebas. Mana mau ia mengorbankan kebebasan yang dipujanya? Itu sama halnya dengan ia harus berhenti menggoda banyak wanita. Ia tidak akan sanggup melakukannya.

lll

Komen-komen wkwk
 

My Step Brother - 6 (Ending)

Chapter 6 ( Ending) Dua hari kemudian Bian membuka akun instagramnya. Gerahamnya segera saja bergemeletuk menahan geram ketika menda...