Selasa, 07 November 2017

My Step Brother - 3

Chapter 3

Selamat malam gaeesss 😁😁
Happy reading yee, ini ada plus-plus-nya. So, yg gak suka dan masih di bawah umur, silakan mundur!

***

Pintu rumah kontrakannya diketuk berulang kali. Bian yang tengah berkonsentrasi pada gambar pondasi bangunannya pun mendengus kesal. Orang gila mana yang bertamu ketika hujan deras? Jangan bilang itu Doni, kalau memang sahabatnya itu yang mengetuk pintu, Bian tidak akan segan memukulkan penggarisnya ke kepala lelaki itu.

“Kakak, lama banget sih. Dingin, tau!”

Bian tercengang di tempat. Buru-buru ia menyusul Hanna yang menerobos tubuhnya tepat setelah ia membuka pintu.

“Kakak, bajunya mana siih?” Hanna mengacak-acak isi lemari di kamar Bian. Kontrakan itu hanya sebuah rumah kecil dengan satu kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Jadi, walau pun Hanna tidak pernah ke sana, ia bisa dengan mudah menemukan kamar Bian.
Bian mengambilkan kaos lengan panjang berbahan tebal nan hangat, juga celana olahraga pendek miliknya. Hanna langsung menyambar dua potong pakaian itu sebelum Bian memberikannya.

Hubungan mereka membaik, menjadi amat sangat baik setelah kehisterisan Hanna sebulan yang lalu di kamar gadis itu. Saat ini, Bian sudah kembali ke Bali. Sudah seminggu ia di sana. Dan hari ini, gadisnya menyusulnya.

Bian meletakkan segelas susu coklat hangat di atas meja. Ia membereskan peralatan menggambarnya dengan cepat. Hanna tidak akan suka kalau ia lebih perhatian terhadap gambar-gambar denah, rencana kusen atau pun rencana atap itu.
Hanna langsung meminum susu coklat itu begitu ia selesai membereskan diri. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kursi.

“Kok dibolehin datang ke sini sendirian, Dek?”

“Maksa.” jawab Hanna cuek yang membuat Bian terkekeh. “lagian Ayah udah janji kok gak bakal ngelarang aku liburan ke mana pun kalau nilai ujian kelulusanku bagus-bagus.”

“Tadi sempat bingung gak nyari tempat ini?” Bian berpindah ke sebelah Hanna, ingin lebih dekat dengan gadisnya.

Gadisnya? Well, mereka backstreet. Sudah backstreet, LDR pula!

“Tadinya aku naik taksi, Kak. Pak supirnya nurunin aku di pinggir jalan gara-gara mobilnya mogok. Gak bayar sih, tapi kan kesel.” gadis itu meneguk susunya.

Bian yang memperhatikannya dari samping hanya tersenyum tipis. Sampai sekarang ia masih tak menyangka kalau bisa sedekat ini dengan Hanna. Bahkan gadis itu sekarang adalah kekasihnya.

“Diturunin gitu, jadi aku gak naik taksi lagi deh. Aku nyari ojek. Sama tukang ojeknya aku dibawa muter-muter masaaa.” gadis itu merengut, “mana kehujanan di jalan lagi, kan dingin. Untung aja abang ojeknya sempat nanya-nanyain alamat rumah ini ke orang-orang. Kalau nggak, gak bakalan aku ada di sini. Palingan juga masih muter-muter kayak anak hilang.”

Bian mengambil gelas di tangan Hanna dan meminum isinya yang tersisa sampai tandas. Ia menyingkirkan gelas itu. Merangkum wajah Hanna dan mengecup bibir gadis itu berkali-kali.

“Manis.” ujarnya di antara kecupannya, “kayak susu coklat. Bikin nagih.” ia mengedipkan sebelah matanya, menggoda.

Semburat merah muda menghiasi pipi hingga ke telinga gadis itu. Membuatnya nampak makin manis. Hanna tersenyum malu-malu, ia memegang tangan Bian yang menangkup kedua sisi kepalanya.

“Ayah curiga nggak sama hubungan kita?” Bian mengusap pipi Hanna dengan ibu jarinya.

“Nggak sih, kayaknya.” Hanna meringis.

“Nanti Kakak cari solusinya, ya.” jemari mereka Bian tautkan, “kamu dingin banget, Dek. Kakak ambilin selimut mau?”

Hanna tersenyum manis dan mengangguk. Gadis itu memerhatikan Bian yang segera berdiri. Niat usilnya muncul. Ia menyusul Bian ke dalam kamar. Lelaki itu berjongkok di depan lemari yang terbuka, sepertinya selimut yang dimaksud ada di tempat paling bawah.

Dengan langkah mengendap, Hanna bersiap menyergap Bian dari belakang. Namun gerakannya kalah cepat dengan Bian yang tiba-tiba berdiri dan memutar badan. Hanna terkejut dan terpekik kaget karena Bian mengangkat tubuhnya lantas melemparnya ke tempat tidur.

“Kak Biaan!” gadis itu cemberut total. Hendak bangkit dari posisi terlentangnya tapi Bian telah lebih dulu melingkupi tubuh mungilnya dengan tubuh besar lelaki itu.

Bian mengecup bibir Hanna, menjalar ke rahang hingga telinga gadisnya. Ia menatap Hanna lembut. Dibelainya pipi merona Hanna dengan jemarinya. Ia menyibak rambut di kening Hanna dan mengecup sayang di sana.

“Kak Bi,” Hanna menyentuh pundak Bian, dadanya berdebar kencang. Ia mendorong leher Bian padanya. Segera saja mereka berciuman.

Bian melumat bibir bawah Hanna, Hanna melumat bibir atasnya. Bergantian mereka saling menghisap. Bian menelusupkan lidahnya, bergelut dengan lidah Hanna, memberi jeda supaya Hanna mengambil napas dan menciumnya lagi.

Hanna meremas rambut Bian. Bibir lelaki itu di lehernya. Mengecup ringan dan menghembuskan napas hangatnya di sana. Menggigit kecil lantas menjilat bekas gigitannya.

“Ahh...”

Hanna mencengkram sejumput rambut Bian. Tubuhnya bergerak, lehernya menggeliat. Semakin gencar Bian menyerang area itu, membuat lenguhan tak tertahankan meluncur dari bibirnya.

“Kakak akan ikut pulang sama kamu.” Bian menatap gadis itu, menghentikan cumbuannya sebelum ia lepas kontrol, “Kakak mau ngelamar kamu sama Ayah.”

Pernyataan itu membuat Hanna terkejut. Ia menatap ke segala arah, kebingungan. Bian akan melamarnya?

“Kamu gak mau nikah sama Kakak?”

Bukan begitu. Hanna hanya takut ayahnya tidak memberi restu. Mereka memang bukan saudara kandung. Tetapi kemungkinan kedua orang tua mereka tidak setuju tetap ada.

Kalau ayah dan ibu tidak memberi restu, lantas apa?

“Aku gak mau pisah sama Kakak.” Hanna mengatakan ketakutannya, nyaris menangis. Ia mengubah posisinya menjadi setengah duduk dan bersandar.

Bian merebahkan kepalanya di dada Hanna. Ia memeluk Hanna erat. Kaki kanan gadis itu menyilang di atas pahanya. Hanna mengusap rambutnya, memberi kenyamanan padanya. Ia mengerti, mengerti akan kekhawatiran Hanna karena ia juga merasakannya.

“Gak tau kenapa, Kakak punya firasat baik sama hubungan kita.”

“Ayah berencana mempertemukan aku sama Jaya, Kak. Untung aku cepat kabur ke sini sebelum rencana itu berhasil.” ujar Hanna lirih, “kenapa saat itu Kakak setuju kalau aku jadi sama Jaya?”

Bian memejamkan mata, pelukannya makin erat di tubuh Hanna. “Kamu milik Kakak.”

Hanna tersenyum tipis. “Perempuan yang waktu itu, pacar Kakak ya?” tanyanya penasaran. Ia perlu berbicara untuk mendatangkan kantuk.

“Ya, setahun yang lalu. Sekarang udah nggak.” jawab Bian sekenanya.

“Kakak udah ngapain aja sama dia?”

Bian mendongak, ia menyeringai jahil, “Kalau kamu nanya apa Kakak pernah ML sama dia atau nggak, jawabannya nggak. Kakak maunya cuma sama kamu.”

Hanna mendengus. Bian kembali merebahkan kepalanya.

“Paling banter cuma ciuman, Dek. Enakan bibir kamu sih ketimbang—aw! Adek!” seru Bian lebay karena Hanna menarik daun telinganya dengan kuat.

“Gak usah lebay deh.” Hanna menggerutu. “salah sendiri punya otak kok mesum banget.”

“Salah kamu lah.”

Hanna mendeliki kepala Bian, lalu menghela napas kesal. “Kok aku?”

“Ya kamu. Kenapa kok cantik banget? Kenapa kok seksi gini? Kenapa kok bibir kamu manis? Kakak kan gak tahan jadinya pengen mesumin kamu terus.”

Tak perlu berpikir dua kali Hanna lagi-lagi menjewer telinga Bian. Lelaki itu mengaduh-aduh. Biarkan saja!

***

“Kenapa harus adik kamu sendiri, Bi?” Hendri menekankan kata harus pada ucapannya. Hari ini, tahu-tahu saja putrinya yang pamit liburan ke tempat Bian di Bali pulang bersama lelaki itu. Hendri curiga ada sesuatu di antara keduanya.

Pasalnya, Hanna tidaklah sedekat itu dengan Bian. Ia mulai curiga saat Hanna memaksa untuk menyusul Bian dengan dalih liburan. Baru sehari di Bali, sekarang Hanna sudah kembali bersama Bian.

Dan jawabannya adalah Bian melamar anak gadisnya.

“Kalian tidak tidur bersama kan?”

“Nggak, Yah.” Bian menatap mata Hendri tenang, “Bian mencintai Hanna. Kami saling mencintai, sejak dulu.”

“Ayah tidak percaya ini. Dari sekian banyak perempuan, kamu memilih adikmu? Dan kamu Hanna, dari sekian banyak laki-laki, kenapa harus kakakmu?”

Hanna menunduk, “Maaf, Yah.”

“Yang Bian mau cuma Hanna, Yah.” Bian meraih tangan Hanna yang duduk di sebelahnya dan menautkan tangan mereka, “Bian gak berniat menyembunyikan hubungan kami terlalu lama, Bian gak mau Hanna diambil laki-laki lain. Karena itu, Bian mohon restui kami, Yah.”

“Ayah sudah mengatur pertunangan Hanna dengan Jaya.” tandas Hendri datar.

“Ayah, Hanna gak mau sama Jaya.” pelupuk mata Hanna mulai berkaca-kaca. “kalau Ayah gak ngerestuin kami, Hanna bakalan ikut Kak Bian kabur dari rumah. Kami tetap akan nik—"

“Nggak.” Bian menyela. Hanna menatap lelaki itu tak percaya. Kenapa Bian keluar dari rencana yang telah mereka susun?

“Yah, bisa aja Bian ngehamilin Hanna. Bisa juga kami kawin lari seperti yang Hanna katakan. Tapi Bian gak mau jadi laki-laki brengsek yang memisahkan seorang anak dengan orang tuanya. Bian udah lebih dulu tau rasanya gak punya orang tua. Bian gak mau Hanna ngerasain hal yang sama. Bian menghormati Ayah dan Ibu. Kalau pun tindakan Bian kali ini salah, Bian mohon maafin Bian.”

Hendri menatap Bian. Sedikit banyak ia kagum dengan ketegasan suara dan kedewasaan Bian dalam berpikir. Namun ia juga kecewa dengan Bian. Ia tak masalah dengan perasaan Bian kepada putrinya. Yang ia masalahkan adalah waktu yang Bian pilih untuk jujur. Apa yang harus dikatakannya kepada Jaya dan Papanya?

"Besok kalian menikah. Usai acara, kamu Hanna, harus langsung berangkat ke Singapura. Selesaikan pendidikan kamu di sana sementara Bian memantapkan diri untuk menafkahi Hanna."

Hanna langsung menatap sang ayah, air mata mengalir membasahi pipinya, "Ayah...."

Bian tersenyum tipis, "Makasih, Yah."

Ayah mana yang tega mematahkan hati anaknya? Kalau pun ada, Hendri tidak termasuk di dalamnya.

***

Download ebook My Step Brother lengkap di sini

Fiiy

My Step Brother - 2

Chapter 2

Ada typo? Kasih tau aku ya! Happy reading 📖📖

***

Sekarang, setiap kali melihat Bian, Hanna merasa selalu ingin mencakar-cakar wajah tampan lelaki itu. Ia semakin membenci Bian. Kenapa Bian mempermainkannya? Kenapa Bian mencium perempuan lain setelah menciumnya? Padahal, itu ciuman pertama Hanna. Hanna akan menyerahkannya kepada lelaki yang dicintainya.

Tapi lelaki yang ia cintai adalah Bian kan? Tetap saja hatinya kesal karena Bian juga mencium perempuan lain. Jangan-jangan, Bian sering melakukan hal itu di Bali? Seks juga kah? Jangan-jangan, Bian menganggap Hanna perempuan murahan ketika lelaki itu menciumnya.

Hanna menendang kerikil di depannya dengan kesal. Ia sakit hati, sangat. Ia juga kecewa, amat sangat. Ia ingin marah kepada Bian. Tapi apa haknya? Ia hanyalah adik lelaki itu. Tolong digarisbawahi dan ditulis dengan huruf balok, ditebalkan dengan font size 80 juga sekalian kata ADIK. Hanna hanyalah seorang ADIK bagi Bian.

Tapi tidak ada seorang kakak yang mencium ADIKnya sendiri tepat di bibir!

Dengan kekesalan di ubun-ubun, Hanna membuka pintu rumah dengan kasar. Dan lagi-lagi, ia membeku. Kakaknya dan perempuan asing malam itu kini tengah bertindihan di atas sofa. Bibir mereka menyatu.

Mengeraskan hatinya, Hanna melangkah menuju kamar. Ia tidak menghiraukan ekspresi terkejut Bian. Ia menutup pintu kamar dengan kakinya dan meluruh di kaki tempat tidur. Hanna menangis.

Kenapa Bian sejahat itu kepadanya?

Hanna mengusap bibirnya dengan kasar, merasa jijik mengingat bahwa bibir Bian pernah ada di sana.

Tok tok

Pintu kamarnya diketuk. Hanna berdiri, melesat cepat ke arah meja rias. Ia menyeka habis air matanya dan menempel bedak tipis dengan cepat di wajahnya.
Ketukan itu tak berhenti. Hanna membuka pintu kamarnya dan memasang wajah juteknya.

“Dek, Kakak—”

“Aku gak bakal bilang Ayah sama Ibu kok. Tenang aja.” sela Hanna malas.

Bian tidak merasa hal itu amat sangatlah penting. Niatnya mengetuk pintu adalah untuk menjelaskan kepada Hanna tentang apa yang baru saja gadis itu lihat. Tapi setelah dipikir lagi, kenapa ia harus menjelaskan?

Supaya Hanna tidak salah paham.

Supaya Hanna tidak semakin membencinya.

Supaya Hanna tidak menganggapnya brengsek.

Supaya Hanna...

Baiklah, itu tidak lagi penting sekarang. Pelupuk mata Hanna memerah. Bian yakin sekali adiknya itu habis menangis. Itu lebih penting dari perasaannya.

“Kamu... gak papa? Ada masalah di sekolah ya?”

Hah!

Hanna mendengus kasar, “Satu-satunya yang bermasalah di sini itu Kakak!” ia membanting pintu di depan wajah Bian.

Bian menutup mata mendengar debuman pintu itu. Apa maksud Hanna? Dirinya yang bermasalah? Jelas-jelas gadis itu yang menangis. Bian berjanji akan membuat siapapun yang menjadi penyebab Hanna menangis mendapat ganjarannya.

Pintu itu tidak dikunci. Bian kembali menutupnya dari dalam setelah dirinya masuk. Yang menjadi kejutan adalah, Hanna sedang terisak di kaki dipan dengan wajah tenggelam di tepi kasur. Kenapa tangisan Hanna menyakiti hati Bian?

“Dek, kamu bisa bagi semua masalahmu sama Kakak.” perlahan Bian berjongkok, menyentuhpundak Hanna dengan lembut hanya untuk ditepis gadis itu secara kasar.

“Aku udah bilang, jangan sok peduli!”

“Dek—”

“Pergi.” isakannya semakin kuat, punggungnya bergetar hebat. Hanna tidak bisa menahan luapan emosinya lagi. Kenapa ia jatuh cinta? Terlebih kepada Bian brengsek itu.

“Kakak peduli sama kamu, Dek. Selalu.” Bian menatap punggung gadis itu nanar, “selalu. Selamanya.”

Kalau saja Hanna bersedia, ia tak keberatan meminjamkan dadanya supaya gadis itu bisa bersandar. Sebesar itukah masalah Hanna hingga adiknya itu menangis sebegini hebat?

Dada Bian terasa nyeri mendengar gadis yang dicintainya itu menangis.

Sial! Cinta? Munafik kalau Bian tidak mengakui adanya perasaan itu di hatinya. Tapi, Demi Tuhan, mereka bersaudara! Hendri tidak akan senang dengan pernyataan bahwa Bian mencintai Hanna.

“Dek—”

Cukup sudah! Hanna muak!
Bian tercengang melihat kebencian yang menyala-nyala di mata berair Hanna. Benci itu tertuju kepadanya.

“Pergi.” Hanna mendorong Bian hingga Bian terjengkang, “aku gak mau lihat Kakak di sini. Pergi.”

Bian tidak menyerah. Ia ingin menuntaskan semuanya saat ini juga. Masalah Hanna, kemarahan dan juga kebencian gadis itu kepadanya. Ia ingin meluruskan benang yang selama ini tersimpul berantakan.

“Dek, kita bicara baik-baik ya?” bujuknya selembut mungkin.

Reaksi Hanna di luar dugaannya. Gadis itu berdiri, menjangkau benda apapun dan melemparkannya ke arahnya.

“Dek!”

“Pergi! Pergi!!” gadis itu histeris.
Beranjak ke meja rias dan melempar satu per satu benda di sana ke arah Bian. Satu waktu Bian tak bisa menghindar, kepalanya terkena lemparan botol parfum Hanna yang terbuat dari kaca. Ujungnya yang sedikit lancip merobek pelipis Bian namun lelaki itu tak begitu memedulikannya.

“Dek,” Bian mendekati gadis itu. Adiknya sedang kacau. Mungkin patah hati, Bian tak tahu. Ia hanya merasa perlu untuk menenangkan Hanna.

“Jangan mendekat!” Hanna terengah, “jangan mendekat, Bian!!”

Dalam sekali sentak, Bian membawa Hanna ke dalam dekapannya. Dipeluknya erat tubuh yang kini meronta dan menangis histeris itu. Bian hanya berharap semoga Ayah dan Ibu tidak pulang dalam waktu dekat.

“Aku benci Kakak. Mau Kakak apa sih, Kak? Bikin aku menderita? Setelah nolak aku, kakak masih sanggup bikin hati aku sakit dengan bawa pacar Kakak ke rumah?”

Bian membiarkan kedua tangan terkepal Hanna memukulinya.

“Aku bukan perempuan munafik yang setelah dikecewain dan disakitin masih bisa bilang aku baik-baik aja. Aku gak bisa, Kak.” pukulan gadis itu melemah, lengannya lunglai di sisi tubuhnya.

Jadi, jelas sudah. Sumber masalahnya adalah dirinya sendiri. Hanna jelas tersakiti olehnya. Karena itulah gadis itu menunjukkan sikap permusuhan kepadanya. Kesalahannya sudah sangat fatal. Bian bodoh bila masih diam tak bergerak. Sudah basah, mandi saja sekalian.

“Maafin Kakak, Dek. Kakak cinta sama kamu.”

Hanna tertawa, tawa miris nan sumbang, “Kakak seneng banget sih mainin perasaan aku?” ia melepaskan diri dari pelukan Bian dengan kasar.

Bian kembali mendekat. Di detik ketika Hanna akan mendorongnya, ia menjatuhkan lututnya sambil meraih tangan Hanna. Hanna yang tak siap pun terduduk di tempat tidur. Gadis itu membeku ketika Bian memeluk tubuhnya.

“Kakak gak pernah sekali pun berniat mainin perasaan kamu, Dek. Kalau pun dulu Kakak nolak kamu, Kakak sama sekali gak bermaksud nyakitin kamu. Kamu masih kecil saat itu, bisa aja kamu salah mengartikan perasaan kamu. Dan juga, kamu adeknya Kakak. Ayah gak akan setuju sama kita, Dek.” Bian menjeda ucapannya, nada suaranya bergetar ketika melanjutkan,

“Maafin Kakak, Dek. Kakak mohon banget sama kamu. Kakak gak bisa terus-menerus kamu benci. Kakak mau kamu yang dulu. Kakak kangen kamu yang dulu. Kakak cinta sama kamu. Kakak gak mau kamu berubah. Kakak takut, perubahan kamu ini bikin kamu makin jauh dari Kakak. Kakak takut kehilangan kamu, Dek.”

Lelaki itu menangis. Hanna menutup wajah dengan telapak tangannya. Menangis tanpa suara. Tidak ada yang lebih membahagiakan baginya saat ini selain cintanya yang terbalas.

***

Download (beli) ebook My Step Brother lengkap di sini

Fiiy

My Step Brother - 1

Chapter 1


Kalau ada typo atau kalimat tidak efektif, please, tandai dan komen ya. Happy reading.. 📖📖..

***

“Han, kakak kamu udah berangkat dari Bali. Kamu ya, yang jemput di bandara? Ibu sama ayah mau ke resepsian.”

Hanna yang tengah berkutat dengan laptop yang kini dipangkunya menghela napas, “Iya, Bu.” jawabnya pasrah.

“Yang ikhlas lho, Han, nolongin orang tua. Ini juga gara-gara jam pesawat yang ditumpangi kakakmu molor sampai dua jam. Kalau gak gitu, pasti ayahmu jemput kakakmu sendiri.”

Duh, gini nih nasibnya seorang anak. Pokoknya, ibu negara selalu benar, deh! Hanna memutar bola mata jengkel. Bibir merah mudanya berkomat-kamit menggerutu tanpa suara.

“Adudududuh, Bu!” Hanna mengaduh tiba-tiba karena daun telinganya dijewer tanpa ampun oleh sang ibu.

Melanie melepas jewerannya dan mengomel lagi, “Yang ikhlas, Han, yang ikhlas. Anak siapa sih kamu kok ya kerjaannya menggerutu terus.”

Hanna berdiri, sambil membawa laptopnya ia berjalan menuju kamar, “Anak Ibu sama Ayah, lah. Kan Ibu sama Ayah yang bikin. Masa Ibu lupa sih?”

“Hanna!” Ibu mendelik, lalu menggeleng-geleng tak percaya melihat Hanna tertawa di balik pintu kamar gadis itu.

Makin ke sini kelakuan anak gadisnya kok ya makin amburadul. Kalau Hanna masih saja begitu, Melanie akan berbicara dengan Hendri untuk menikahkan saja anak gadisnya itu setelah lulus SMA sebulan lagi. Siapa tahu dengan menikah Hanna akan jadi lebih teratur.

***

Hanna menunggu dengan wajah ditekuk total karena kakaknya tak juga menampakkan batang hidungnya. Mana mataharinya panas banget lagi. Hanna menyesal ia hanya menggunakan hot pants dan kaos lengan panjang dengan tinggi setengah paha dari rumah tadi. Ia juga menyesal tidak mengikat rambutnya. Yaa, mana tahu kalau si raja siang sedang bersemangat hari ini, kan?

Sepuluh menit kemudian Albian Mahesa muncul dengan tas punggung besar yang disanggulnya di lengan kiri dengan mudah. Penantian Hanna yang terasa berjam-jam lamanya akhirnya terbayar. Hanna ingin segera pulang dan berendam di bak mandi.

“Nih, kakak yang nyetir.” tanpa tedeng aling-aling Hanna melemparkan kunci mobil kepada Bian. Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil duduk dengan lengan bersidekap.

Bian mengerutkan alis, ia memperbaiki letak tasnya lantas menunduk di sebelah Hanna. Terasa olehnya tubuh sang adik menegang ketika ia mencondongkan tubuh untuk memasangkan sabuk pengaman gadis itu.

“Masih aja ya? Mau sampai kapan dipasangin terus seatbelt-nya?” godanya lalu mengacak puncak kepala Hanna dengan gemas.

Hanna mendengus, bibirnya mengerucut sebal. Sejenak, perhatian Bian terfokus ke arah bibir itu. Lekas ia memundurkan tubuh dan menutup pintu mobil. Ia mengambil tempat di bangku kemudi setelah meletakkan tasnya di jok belakang.

“Sekolah kamu gimana, Dek?” tanya Bian sambil lalu.

“Ngapain nanya-nanya?” gadis itu membalas dengan tanya jutek.

“Gak boleh nanya memangnya?”

“Gak boleh!”

“Hm. Kenapa?”

“Ya gak boleh aja. Udah deh, nyetir aja yang bener!” ketus Hanna, tidak mau berbicara apapun lagi dengan Bian. Ia memilih menyetel radio keras-keras di dalam mobil itu.

“Dek, kecilin lah volume-nya. Bisa bikin orang keganggu, kan.”

Hanna pura-pura tidak mendengar. Ia membuang pandangannya ke luar jendela. Bian tersinggung? Ia tak peduli.

***

Namanya Hanna Athalia. Kalau Bian tak salah menghitung, kini Hanna sudah berusia delapan belas tahun. Selisih tiga tahun dengannya. Adiknya itu cantik, kulitnya putih dan tingginya semampai. Bian tidak akan merasa heran kalau Hanna dikejar-kejar kaum lelaki. Gadis itu, terlepas dari parasnya yang cantik juga memiliki feromon yang menarik perhatian makhluk Adam.

Bian juga tidak akan heran kalau Hanna punya banyak teman laki-laki—jauh lebih banyak dari teman perempuan. Satu, dua, tiga... Ada lima suara berbeda dari teman-teman Hanna yang kini bertandang ke rumah. Mereka ramai, Bian yang berada di kamarnya tersenyum tipis mendengar tawa renyah Hanna.

Penasaran dengan apa yang Hanna lakukan dengan teman-temannya, Bian pun keluar dari kamar. Sejurus kemudian ia menyesali keputusannya. Hanna, dengan hanya menggunakan blouse lengan pendek tipis dan hot pants duduk di antara teman-teman laki-lakinya yang berjumlah tiga orang. 

Mereka duduk melingkar di atas karpet, ada dua orang gadis lain di sana. Kenapa Hanna tidak duduk di antara dua teman perempuannya?

Bian menghela napas dalam-dalam. Ia melangkah tenang mengekori Hanna, gadis itu pergi ke dapur, entah untuk mengambil apa.

“Dek, pakai baju yang lebih sopan lah. Apalagi di depan laki-laki.” tegur Bian di muka dapur.

“Terserah aku, lah. Baju, baju aku. Badan juga, badan aku. Kenapa kakak yang repot? Gak usah sok peduli.”

Bian mengepalkan tangan. Tanpa bisa ia cegah, kakinya telah melangkah dan kedua tangannya merangkum wajah Hanna. Sejurus kemudian, bibirnya telah membungkam bibir gadis itu.
Hanna tentu saja terkejut. Setelah kesadarannya pulih, ia meronta. Tetapi Bian menahan tangannya dan memeluk tubuhnya dengan erat.

“K-Kak—lep-pas!”

Bian terhenyak. Ia melangkah mundur dengan tatapan nanar kepada Hanna yang berlinang air mata, 

“Dek, maaf. Kakak nggak—”

Plak!

Bian memegang pipinya yang terasa perih. Ia terpaku, tak bisa berkata-kata ketika Hanna melangkah cepat setelah mendorong tubuhnya.

Sebenarnya ia kenapa? Bian memukul dinding dapur dengan amarah besar. Setelah sekian tahun, kenapa sekarang ia bisa lepas kendali? Demi Tuhan, demi Ayah dan Ibu yang dihormatinya, Hanna itu adiknya!

Napasnya memburu, Bian melangkah lebar kembali ke kamarnya dan menutup pintu dengan sekali bantingan.

“Astaga! Dia kakak lo, ‘kan, Han? Kok kayak yang marah?”

Menjawab pertanyaan Shelly, Hanna mengangguk. “Dia emang aneh.”

“Tapi kece badai, mau dong gue dikenalin sama dia.” Kiandra menangkup pipinya yang terasa panas, “hot banget kakak lo, Han.”

Dan perkataannya itu membuat semua teman-temannya menyorakinya. Hanna memutar bola mata jengah.

***

“Han, kamu jadi mau kuliah atau gimana?” Hendri memulai percakapan setelah makan malam usai.

“Hanna mau ngambil jurusan manajemen di Singapura, Yah. Jadi, ya, Hanna mau lanjut kuliah.”

“Dinikahkan aja dulu, Yah, Hanna-nya. Biar gak macam-macam di sana, jauh dari pengawasan orang tua.” Melanie menimpali.

Segera saja Hanna merengut, “Ibu apaan sih.”

“Kamu ingat Jaya, nggak, Bi? Teman kamu di SMA.” Hendri tiba-tiba bertanya, mengajak Bian masuk dalam pembicaraan. Ketika Bian mengangguk, barulah Hendri menjelaskan, “Kemarin Ayah ketemu dia dan Papanya. Menurut kamu, kalau Jaya jadi sama adik kamu gimana, Bi?”

Bian menatap Hanna, lalu tersenyum tipis kepada ayahnya, “Jaya laki-laki baik, Yah. Dia pasti bisa jagain Hanna.”

Srekk

Hanna berdiri hingga kursi yang didudukinya bergeser, “Hanna ke kamar dulu, Yah, Bu.” tukas gadis itu lantas meninggalkan meja makan.

“Kalau kamu, kapan mau bawa perempuan ke sini, Bi? Kuliah udah hampir kelar, kamu juga udah punya kerjaan, ‘kan, di Bali?”

“Nanti, Bu.” jawab Bian, “masih ada sesuatu yang harus Bian selesaikan.”

Itu tentang hatinya. Bian tidak pernah merasa tertarik begitu dalam kepada seorang perempuan. Di universitas tempatnya menuntut ilmu di Bali, perempuan cantik dan berpendidikan yang menaruh perhatian padanya tidak sedikit jumlahnya. Hanya saja, hatinya tak bisa berkompromi. Ia tetap terpaut pada satu nama.

Hanna Athalia. Adiknya sendiri.

Hanna bukanlah adik kandungnya. Bian adalah anak dari sahabat Hendri yang telah tiada, Hendri dan Melani sepakat untuk mengadopsi Bian. Saat itu, usia Bian masih tiga tahun. Hanna sendiri masih berusia seminggu.

Dulunya, Bian dekat sekali Hanna. Bian menyayangi Hanna, Hanna pun manjanya bukan main kepada Bian yang dianggapnya superhero karena selalu meniup lukanya ketika Hanna jatuh. Hubungan mereka dulunya baik-baik saja, sampai permainan hati merusak segalanya.

Hanna, yang saat itu sudah masuk SMA, menyatakan bahwa ia memiliki perasaan kepada Bian. Bian tidak menganggapnya serius saat itu. Tetapi Hana keukeuh, sebulan penuh Bian berada di rumah untuk menghabiskan liburan pasca UAS, nyaris setiap ada kesempatan Hanna selalu berkata bahwa gadis itu mencintainya.

Suatu pagi sebelum keberangkatan Bian ke Bali, Hanna lagi-lagi menyatakan cintanya. Gadis muda itu bahkan menangis ketika dengan tegas Bian menolaknya. Mereka adalah saudara, lagipula, Hanna masih kecil. Itulah jawaban Bian.

Dan penolakan itu, mematahkan hati Hanna. Ia tak bisa bersikap biasa kepada Bian. Ia menutupi perasaannya dengan sikap kasarnya, tidak ingin Bian tahu kalau sampai saat ini ia masih menyimpan rasa. Selalu untuk Bian.

Sayup-sayup Hanna mendengar ada suara perempuan di luar. Sepertinya sedang berbicara dengan Bian.

Hanna keluar dari kamarnya. Di ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu hanya ada Ayah dan Ibu. Pintu utama terbuka, tidak seperti biasanya. Hanna berjalan ke arah pintu itu, hendak menutupnya.

“Bi, kasih aku kesempatan. Aku cinta sama kamu, Bi.”

Rupanya, suara perempuan yang tengah berbicara dengan Bian itu berasal dari teras. Tidak ada sahutan dari Bian setelah pernyataan perempuan itu. Hanna tidak tahu kenapa dirinya sebegitu penasaran. Ia melanjutkan langkah, dan membeku bahkan sebelum mencapai ambang pintu.
Bian dan perempuan asing itu berciuman.

***

Mau novelet My Step Brother full story? Klik di sini

Fiiy

Aries - Chapter 6



Chapter 6 - Dia Gadis Liar

Pasar Banyuasri memang ramai pada malam hari. Ivy dan Miftah berada di sana, bergabung dengan semua orang yang tengah melakukan transaksi jual beli. Ivy tidak berniat berbelanja. Ia mengajak Miftah ke sana hanya karena ingin tahu seperti apa suasana pasar di malam hari.

Seperti pasar tradisional pada umumnya, Pasar Banyusari tidak hanya menyediakan kebutuhan pokok. Namun juga ada pedagang yang membuka warung makan. Ivy dan Miftah sepakat untuk membeli nasi kuning yang harganya murah.

Sesekali mereka berbicara dan bercanda. Candaan garing yang membuat Ivy tertawa lalu memutar bola mata malas.

Di sudut lain, Aries melihat keduanya. Tetap saja ia merasa cemburu. Gadis sialan itu rupanya bahagia sudah tinggal bersama Miftah. Mungkin sebelumnya Ivy tidak sudi tinggal dengan ibunya karena hal itu akan membuat gadis itu terkekang kebebasannya. Bisa pergi dari rumahnya mungkin saja merupakan angin segar bagi Ivy. Buktinya, gadis itu kini bisa tertawa bahagia.

“Oh, itu Ivy!” seru Mira yang sudah selesai melakukan transaksi dengan penjual sayur.

Perempuan itu menghampiri Ivy dengan langkah lebar. Dengan terpaksa Aries mengikutinya. Ia tidak melepas tatapannya dari gadis yang tersenyum kikuk disapa ibunya.

“Belanja, Vy?”

Gadis itu tertawa tak enak, “Jalan-jalan, Tan.”

“Di pasar?” dan Mira tertwa ketika gadis itu mengangguk malu, “Kamu ada-ada saja.”

“Tante belanja apa?” tanya gadis itu yang terlihattidak mau menatap Aries sama sekali. Miftah yang berada di sebelah Ivy menghela napas berat. Ini semua tidak akan berhasil.

“Kebutuhan dapur, seperti biasa. Aries tidak mau disuruh pergi sendiri. Gengsi katanya.” Mira tertawa lagi.

Ivy ikut tertawa kecil, “Namanya juga laki-laki, Tan.”

“Gimana tempat tinggal kamu yang baru, Vy?”

“Lumayan—”

“Tentu saja dia menyukainya, Bu. Dia bebas melakukan apapun sekarang bersama pacarnya.” Sela Aries sinis.

“Maksudnya?” Mira bertanya tak paham dengan kalimat putranya.

“Ibu pikir saja apa yang sering dilakukan oleh gadis tanpa orang tua. Nakal dan tidak terkendali.”

Miftah yang sejak tadi berdiam diri tak urung merasa marah karena Aries tak berhenti merendahkan Ivy. Ivy yang merasakan perubahan gestur tubuh Miftah segera memegang tangan lelaki itu.

“Maaf, Tante. Kami harus pergi, permisi.”

Aries menatap tautan tangan keduanya yang berlalu dengan ekspresi muram. Kalimatnya keterlaluan, tetapi hal itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Kita bicara di rumah.” Tutur Mira final karena mencium adanya ketidakberesan antara putranya dengan gadis yang diamanahkan padanya.

Tiba di rumah, Aries duduk serampangan di sofa. Lelaki itu manatap sang ibu tanpa minat.

“Apa maksud perkataanmu tadi?” Mira menyipitkan matanya curiga.

“Apa?” Aries balik bertanya, “Oh, Ibu tidak tahu kan, kalau rumah ini sudah Ivy jadikan sebagai tempat bermesum ria dengan si brengsek itu?”

“Maksud kamu Ivy dengan Miftah? Jangan sembarangan kamu. Mereka bersahabat secara sehat, Aries!” bela Mira terang-terangan.

“Tidak ada sahabat yang tidur bersama, Bu.”

“Jangan menuduh mereka sembarangan kalau kamu tidak punya bukti.”

“Miftah yang mengatakannya sendiri padaku kalau mereka sudah tidur bersama!” sengit Aries.

Mira tentu terkejut bukan main. Tetapi ia masih percaya bahwa suatu kejanggalan telah terjadi.

“Kamu tahu tidak kalau Miftah itu sudah punya pacar? Ibu bahkan pernah bicara pada pacaranya via video call.”

“Lalu?” Aries bertanya ketus, “Itu tidak menutup kemungkinan bagi Ivy untuk tidak tidur dengan Miftah kan? Aku bahkan pernah melihat Miftah mencium gadis itu di depan pintu, Bu! Ivy itu gadis nakal, dia tidak sepolos dulu lagi.”

“Ibu tetap tidak percaya.” Mira menekankan kata tetap, “Kamu tahu di mana Ivy tinggal sekarang?”

“Tentu saja di tempat Miftah. Aku tidak akan heran jika nanti Ivy hamil di luar nikah.”

“Anak bodoh!” nyinyir Mira kepada putranya, “Ivy mengontrak rumah, Aries. Dan Ibu sudah memberitahumu alamatnya. Kamu pikir dia semiskin itu hingga tidak bisa menyewa atau bahkan membeli rumah untuk ditinggali hingga harus menumpang?”

Mengontrak? Aries memperbaiki posisi duduknya.

“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat taksi mengantarakannya ke gedung apartemen, Bu. Ada Miftah yang menunggunya di sana.”

“Kalau kamu tidak percaya, kamu datangi saja alamatnya.” Mira menjeda ucapannya, “Tunggu. Jangan katakan kalau kamu yang sudah membuat Ivy pergi dari rumah ini.”

“Memang aku. Aku tidak sudi ibu tinggal dengan gadis jalang seperti Ivy.”

“Astaga, Aries!” Mira benar-benar tak habis pikir, “Kamu pikir yang kamu lakukan itu benar?”

“Ya.” Jawab Aries mantap.

“Aries, Ibu tidak tahu harus mengatakan apa lagi padamu. Sebaiknya kamu cari tahu sendiri kebenarannya. Ibu yakin gadis itu pasti sakit hati karena ulahmu.”

Sakit hati? Tidakkah ibunya melihat betapa bahagia gadis itu sekarang? Ivy bebas untuk tidur dengan siapa pun. Orgasme telah mengembalikan kebahagiaan gadis itu. Pikir Aries sinis.
lll

Aries - Chapter 5

Ebook lengkap:
Aries
My Melody (LGS#2)



Chapter 5 - Pergi

“Kenapa? Kamu nggak nyaman di sini, Vy?” adalah pertanyaan pertama Mira ketika tahu-tahu saja Ivy berpamitan untuk pergi.
“Bukan begitu, Tan. Ivy cuma mau tinggal di tempat yang lebih dekat dengan kampus. Agar setelah masuk nanti, Ivy nggak perlu naik kendaraan lebih jauh.”
Mira menatap gadis itu tak setuju, “Mama kamu akan marah kalau Tante membiarkan kamu pergi.”
Mamanya menitipkannya kepada Mira. Tentu Mira merasa bertanggungjawab untuk menjaganya. Ivy tersenyum kecut. Ia ingin tinggal namun tidak bisa.
“Nanti Ivy yang tanggung jawab kalau Mama marah.” ujarnya bercanda.
“Kamu serius, Vy? Tapi kamu mau berjanji kan, untuk memberi Tante kabar?”
“Iya, Tante.” Ivy tersenyum kecil. Ia bersyukur karena Aries saat itu tidak ada. Jadi setelah mendapat izin, ia langsung menyeret kopernya menuju taksi online yang sudah ia pesan.
Ivy duduk di dalam taksi itu. Ia menoleh ke arah rumah yang sudah menaunginya sebulan belakangan. Tante Mira masih berdiri di depan rumah. Dari belakang tubuh perempuan itu, Aries berlari. Sebelum ia menangis lagi, segera disuruhnya si supir untuk melajukan taksinya. Di dalam hati membisikkan kata selamat tinggal kepada Aries. Kepada lelaki yang menginginkan kepergiannya.
“Mau ke mana dia, Bu?”
Mira masih melongok melihat taksi yang membawa Ivy pergi, kemudian perempuan itu menyahut ringan, “Pindah.”
Aries mengekori sang ibu, “Pindah? Kenapa?”
“Supaya lebih dekat dengan kampus katanya.”
Tidak, bukan itu alasannya. Gadis itu pasti pergi karena menuruti perkataan Aries. Yang berarti bahwa memang benar Ivy adalah gadis ber-attitude buruk yang bersembunyi di balik kepolosan ekspresi di wajah cantiknya.
“Dia pindah ke mana, Bu?”
Mira memberitahukan alamat baru Ivy kepada putranya. Selepas itu, ia berbalik untuk bertanya mengapa Aries nampak gusar ketika berbicara. Tetapi putranya sudah pergi, menaiki tangga dan terburu-buru turun lagi dengan kunci motor di tangan.
“Mau ke mana kamu, Ries?”
“Ada urusan sebentar, Bu.” Lelaki itu menjawabnya tanpa menghentikan langkah. Tidak lama setelahnya ia sudah berada di jalan raya. Dengan kecepatan motornya, ia bisa menyusul taksi yang membawa Ivy. Taksi itu berhenti di lampu merah. Aries berhenti di sebelahnya, ia mengetuk kaca jenIvy taksi itu.
Ivy hanya menoleh, gadis itu tidak menghiraukan karena selanjutnya ia kembali menatap ke depan. Aries melepas napas gusar. Sebelum ia mengetuk kaca jenIvy taksi itu lagi, lampu lalu lintas sudah menyala hijau.
Aries terus mengikuti ke mana taksi itu pergi. Taksi itu berhenti di depan wilayah gedung penginapan. Aries memelankan laju motornya, melihat Ivy yang turun dari taksi dan disambut oleh Miftah. Jadi gadis itu berencana untuk tinggal dengan Miftah? Oh, harusnya Aries tahu. Harusnya ia tidak perlu mencemaskan gadis itu.
Cemas?
Sial! Mengapa ia harus cemas? Toh, Ivy sudah memilih jalannya sendiri. Daripada cemas, alangkah lebih baiknya bila ia kembali hidup seperti dulu. Bersenang-senang dan memuaskan diri dengan banyak wanita seperti Ivy.
Aries mulai membenci gadis itu. Mengapa Ivy berubah menjadi gadis berperilaku buruk? Mengapa gadis itu dengan mudah membenarkan tuduhannya? Mengapa gadis itu memperjelas tuduhannya dengan tinggal seatap bersama Miftah?
Siapa pun tahu apa saja yang bisa dilakukan oleh dua orang manusia dewasa berbeda jenis jika berada di satu ruangan yang sama.
Sialan Ivy!
Gadis itu berhasil membuat Aries marah-marah tak jelas sepanjang hari. Aries meninju cermin di kamarnya sebagai pelampiasan amarah yang sulit tersalurkan. Ia tak terima. Dulu Ivy menggagalkan perjodohan mereka dengan alasan yang sampai saat ini tidak Aries ketahui. Lalu sekarang, gadis itu kembali hanya untuk memberinya harapan lalu pergi lagi.
“Arrrggggh!!”
Aries berteriak nyalang. Mira yang mendengarnya dari lantai bawah segera menyusul ke atas dan mengetuk kamar sang putra. Aries terlihat emosional tadi, ia khawatir sesuatu yang buruk telah terjadi kepada putranya itu.
“Ries, ada apa? Buka pintunya.” Mira mengetuk pintu itu beberapa kali. Hal yang sama ia lakukan tetapi Aries tak kunjung menjawab.
Aries menetralkan deru napasnya yang berkejaran. Cermin yang retak menampilkan dirinya dengan mata merah dan berair, rahang terkatup rapat juga tatapan menghunus tajam.
“Ries, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, Bu.” Jawabnya berusaha terkendali, “Aku hanya tak sengaja memecahkan vas bunga.”
Suara ibunya tidak terdengar lagi. Aries memejamkan mata, meresapi perih yang berasal dari pecahan kaca yang tertancap pada luka di buku-buku jarinya. Sekarang ia punya alasan untuk tidak percaya akan cinta lagi.
***
“Harga sewanya tidak terlalu mahal.” Beritahu Miftah kepada gadis yang sedang mengedarkan pandangan ke sepenjuru rumah kontrakan yang dicarikannya.
Miftah sudah menawarkan supaya Ivy tinggal bersamanya di apartemen. Namun gadis itu menolak, dan meminta tolong untuk dicarikan rumah kontrakan sederhana yang dekat dengan kawasan kampus di mana mereka akan segera memulai kuliah.
Sebenarnya, Ivy lebih dari mampu untuk menyewa atau bahkan membeli satu unit apartemen untuk ditinggalinya. Orang tua gadis itu bukanlah berasal dari kalangan menengah ke bawah. Tetapi Ivy adalah Ivy. Ivanka Ristya tidak pernah mengedepankan soal harta. Gadis itu terlalu sederhana.
“Ini cukup, terimakasih. Nindy akan cemburu kalau tahu kamu sebegini perhatian padaku.” Gadis itu mengerling jahil.
Miftah mendengus malas. Nindy adalah kekasihnya sejak dua tahun yang lalu. Gadis itu sungguh baik dan bisa mengerti bagaimana Miftah. Mereka bertiga akan kuliah di kampus yang sama, hanya saja Nindy belum berangkat dari Jakarta.
Persahabatan sejati antara lelaki dan perempuan terealisasi oleh Ivy dan Miftah. Nindy yang statusnya sebagai kekasih Miftah saja kagumdengan keduanya. Tentu saja tak jarang gadis itu merasa cemburu akan perhatian Miftah yang seolah terbagi. Lucunya, ketika cemburu Nindy akan mengutarakannya secara langsung, baik kepada Miftah ataupun Ivy.
Ah, Miftah tidak akan pernah melepaskan gadis itu dari sisinya. Selesai sarjana nanti, ia akan segera membawa gadis itu ke pelaminan.
“Kangen ya?” Ivy mencolek lengan Miftah yang segera tersenyum tipis.
“Kamu baik-baik saja kan, Vy?” tanyanya memastikan.
Ivy menghela napas berat, gadis itu duduk di tepi tempat tidur kecil di sana, “Nggak. Pokoknya, kamu gak boleh biarin Mas Aries menemuiku lagi.”
Miftah memegang lehernya dan meringis. Ia ingat kemarahan Aries tempo hari yang sampai mencekik lehernya ketika ia mendustai lelaki itu tetang hubungannya dengan Ivy. Hei, jangan salahkan dirinya. Ia hanya ingin tahu seberapa dalam perasaan lelaki itu kepada sahabatnya.
“Aku pikir kamu mencintainya.”
“Dulu.”
“Kamu tahu, kamu hanya perlu menjelaskan, Vy. Aku lihat dia juga mencintai kamu.”
“Apa yang bisa aku jelaskan pada orang yang gak mau percaya lagi padaku? Dia sudah terlanjur menganggapku buruk. Jadi, biarkan saja. Mungkin ini memang cara Tuhan untuk menunjukkan padaku bahwa dia bukan untukku.” Ivy mengatakannya dengan nada pasrah diikuti senyum tipisnya yang mengambang.
“Aku akan membantumu menjelaskannya. Ini juga salahku.”
“Nggak.” Ivy menggeleng, “Biarkan saja semuanya seperti ini. Aku sudah malas menghadapi Mas Aries yang egois.”
Ivy bertekat untuk membiarkan segalanya berlalu begitu saja. Jika nanti Aries sadar bahwa lelaki itu telah membuatnya terluka, ia ingin melihat bagaimana cara Aries untuk bertanggungjawab. Jika Aries ingin menjelaskan tentang perbuatannya di masa lalu, maka Ivy akan mendengarkan. Ia tidak seperti Aries yang gegabah dan bersikap serampangan dalam menilai sesuatu. Walau pun realitanya hatinya sudah sakit, asal tidak disakiti lagi, Ivy masih bisa untuk sekedar memaafkan.
lll
 

My Step Brother - 6 (Ending)

Chapter 6 ( Ending) Dua hari kemudian Bian membuka akun instagramnya. Gerahamnya segera saja bergemeletuk menahan geram ketika menda...