Selasa, 03 Oktober 2017

Beautiful Desire - 15

NOT FOR UNDERAGE



Dering ponsel yang nyaring membangunkan Rexan dari tidurnya. Suasana gelap di dalam kamar langsung menyambutnya. Hari sudah malam ternyata. Tirai yang tidak dibuka dan lampu yang belum dinyalakan membuat kamarnya terlihat lebih gelap.

Rexan berdiri, berjalan menuju pintu dan menekan sakelar lampu. Kemudian ia beranjak keluar dari kamar untuk menghampiri asal deringan ponsel itu. Itu milik Elsa, tertera nama 'Daddy' di layar ponsel yang kini berada di tangan Rexan itu.

Oh, tadi ia bertengkar dengan Elsa, Rexan tentunya tak lupa akan hal itu. Dan sekarang, setelah beberapa jam berlalu dia mulai merindukan Elsa. Itu bahkan baru beberapa jam sejak terakhir ia bertemu gadisnya, bagaimana bila ia kehilangan Elsa untuk selamanya? Rexan tak berani membayangkan hal itu terjadi.

Digesernya layar ponsel itu untuk menjawab panggilan. Alfredo Moriz langsung mengenali suaranya begitu ia bergumam 'halo'.

"Di mana putriku?"

"Di apartement-nya tentu saja. Ponselnya tertinggal di tempatku." Rexan menjawab tenang.

"Kau apakan putriku? Tidak biasanya ia melupakan benda sepenting ponsel."

Ah, firasat seorang ayah. Rexan merutuki hal itu. Tapi masih dengan tenang ia kembali menjawab, 

"Tadi ia terburu-buru kembali ke apartement-nya karena suatu hal yang lebih penting daripada ponsel."

"Begitukah?" Rexan mendengar nada curiga pada suara Alfredo, "aku tidak akan segan memulangkan putriku ke rumahnya jika kau macam-macam anak muda."

"Maka aku akan menyusulnya ke rumahnya." Rexan mendesis, tidak setuju dengan gagasan bahwa Elsa akan diambil dari sisinya bahkan oleh ayah gadis itu sekali pun.

"Maka jaga putriku baik-baik. Sampaikan padanya kalau aku menelepon. Kututup."

Orang tua itu benar-benar mengesalkan. Sangat berbeda dengan istri dan anaknya yang lemah lembut. 

Ah, Elsa. Rexan keluar dari apartement-nya, berdiri di depan pintu apartement Elsa yang tertutup rapat. Sebenarnya, bisa saja ia masuk. Tetapi berpikir tentang kemungkinan Elsa yang tengah marah karena ucapannya siang tadi, ia tidak melakukannya. Ia menekan bel hingga beberapa kali namun hasilnya sama: tidak ada jawaban.

Rexan menghela napas. Ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya dan kembali tidur dengan kesepian tanpa adanya Elsa yang ia peluk. Gadis itu memang wajar merasa marah. Sebab Rexan sendiri pun sadar bahwa dirinya keterlaluan. Mempunyai banyak pengalaman dengan perempuan mestinya membuatnya paham bahwa meragukan perasaan perempuan tidak semestinya ia lakukan. Tapi, sekali lagi, Elsa berbeda. Gadis itu memiliki tempat yang berbeda di hatinya. Maka dari itu perlakuannya kepada Elsa pun berbeda.

Paginya, Rexan langsung berangkat ke sekolah untuk mengajar tanpa menunggu Elsa keluar dari apartement milik gadis itu. Ia sengaja berangkat lebih pagi dan menunggu Elsa di depan gerbang sekolah. Tetapi, sampai bel masuk berbunyi pun Elsa tetap tidak datang. Ia merogoh ponselnya, dan mengumpat ketika ingat bahwa ponsel Elsa ada padanya.

Ke mana gadisnya itu pergi? Tanpa mempedulikan jadwal mengajarnya hari itu, Rexan bergegas kembali ke mobilnya dan memacunya kembali ke apartement. Ingin memastikan ada atau tidaknya Elsa di tempat itu.

Elsa yang tidak berada di apartement membuat Rexan cemas. Demi Tuhan, siapa pun bisa mencelakai Elsa. Dan jika itu terjadi, maka Rexan, maka dia... Rexan mengacak rambutnya. Satu-satunya teman Elsa adalah Kenia, jadi ia menghubungi Kenia dengan ponsel milik Elsa yang ada padanya.

"Halo, El? Kamu di mana? Kenapa tidak masuk hari ini? Kamu baik-baik saja?" tanya Kenia beruntun mengira bahwa Elsa yang sedang meneleponnya.

Dari pertanyaan Kenia, Rexan langsung mengambil kesimpulan kalau sahabat gadisnya itu tidak tahu tentang keberadaan Elsa.

"Ponselnya ada padaku dan aku tidak tahu di mana dirinya saat ini. Jika kau bertemu dengannya, langsung hubungi aku." titah Rexan lantas menutup panggilan. Rexan mengusap wajahnya dengan kasar, ia mengambil ponselnya sendiri dan menghubungi Gerald, orang kepercayaannya.

"Cari gadisku sampai kau menemukannya."

Setelahnya, Rexan berjalan mondar-mandir di kamar Elsa. Dia berpikir tentang tempat yang kemungkinan Elsa kunjungi. Ia yakin Elsa tidak pulang sejak semalam. Demi apapun, ia khawatir. Ibunya mengetahui Elsa sebagai kekasihnya, dan itulah masalahnya.

Rexan berlari menuju mobilnya, melajukannya tanpa tujuan karena nyatanya Elsa tidak senang pergi ke mana pun. Gadis itu tidak punya tempat yang sering dikunjungi atau disukainya. Elsa lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya ketimbang pergi berjalan-jalan atau bermain dengan teman-temannya. Akan sulit mencari Elsa dengan keadaan begitu.

Mobil Rexan menepi di sebuah taman. Ia turun dari sana, berpikir mungkin Elsa ke tempat itu. Karena bagaimana pun seorang perempuan identik dengan bunga dan taman kan?
Tapi tidak ada Elsa di sana.

"Astaga, Els. Di mana kamu?" gumamnya kalut setelah beberapa menit mengelilingi taman dan tidak menemukan Elsa.

Ponselnya berdering, Rexan mengangkat panggilan dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

"Ya, Gerald. Katakan."

"Anak buah saya melaporkan bahwa kemarin siang Nona Ellysa berada di pusat perbelanjaan terkemuka di kota, Tuan."

Artinya Elsa langsung pergi keluar setelah Rexan menyuruhnya pulang. "Ya, lalu?"

"Nona bertemu dengan ibu Anda. Dan kemungkinan besar Nona sedang bersamanya hingga saat ini."

"Apa?" Rexan mendesis, "baiklah. Selidiki ibuku, awasi rumahnya dan pastikan Ellysa selamat."
Sambungan telepon diputus oleh Rexan. Ia menghembus napas berat. Meyakinkan diri bahwa Elsa akan baik-baik saja bersama ibunya sungguh sulit. Dulu, ibunya juga melakukan hal sma kepada tunangannya, mendekatinya perlahan solah mencari celah, dan setelah menemukannya, ibunya bergerak cepat menggunakan kesempatan itu. Tunangannya meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun dengan sebuah bis pariwisata.

Rexan telah menyelidiki semuanya. Bukti bahwa ibunya bersalah sudah ada di tangannya. Mengetahui bahwa dalang dari kecelakaan yang menewaskan tunangannya adalah ibunya, memukul Rexan dengan telak. Dia tidak bisa menghukum sang ibu, tidak ada seorang pun anak yang tega menghukum ibunya. Tidak juga Rexan meski ia tahu ibunya bersalah. Rexan tidak bisa menghukum ibunya sekeji apapun watak yang ia sandang. Dia hidup tanpa kasih sayang ibunya, tetapi dia menyayangi ibunya sebagaimana seorang anak umumnya.

Jika Jenny mengulangi kesalahan yang sama, maka kali ini Rexan tidak akan tinggal diam. Setidaknya, dia akan melaporkan Jenny ke pihak yang berwajib supaya bisa diadili. Itu sudah cukup untuk menghukum Jenny karena hukuman keji-seperti yang Rexan lakukan terhadap Velin dan Rindy-sudah tidak mungkin Rexan berikan kepada Jenny.

Gerald menelepon lagi saat Rexan sudah mengemudikan mobilnya di jalan raya.

"Ibu Anda sudah dalam perjalanan mengantar Nona pulang, Tuan. Saya sudah memastikannya."

Rexan menghembus napas lega, "Baiklah, Gerald. Awasi sampai Ellysa naik ke apartement-nya. Aku akan menunggu di sana."

***

Elsa menunduk di sebelah jendela mobil Jenny yang terbuka. Ia baru saja diantar pulang oleh Jenny, dan terpaksa meliburkan diri lagi ke sekolah karena hari sudah siang. Semalam ia menginap di tempat Jenny, mengobrol sampai larut malam sampai Jenny melarangnya pulang karena memikirkan keselamatannya. Akhirnya, ia baru pulang dari rumah Jenny usai sarapan.

"Terimakasih, Bibi, sudah mengantarku pulang."

"Kapan saja, Dear. Kau boleh datang ke tempatku kapan pun kau mau."

"Ya, tentu saja."

"Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa, sayang."

Elsa tersenyum. Bukankah Jenny baik sekali?

Kaca jendela satu arah itu tertutup. Elsa tidak dapat melihat keadaan di dalam mobil. Jenny mengulas senyum, menatap Elsa dengan geraham terkatup. Dia menekan klakson dan mulai melajukan mobilnya. Meninggalkan tempat Elsa dengan perasaan puas. Satu rencana sudah ia jalankan. Satu per satu, pelan namun pasti semua rencananya akan menuai hasil.

Elsa menunggu hingga mobil yang Jenny kendarai berjalan agak jauh sebelum kemudian naik ke apartement-nya. Dia menunggu dengan tenang sampai lift mengantarkanya menuju lantai apartement miliknya. Ketika pintu lift terbuka, ia melenggang, sampai kemudian matanya menangkap keberadaan Rexan yang berdiri kaku tak jauh di depannya.

Ia menghela napas, kembali merasa sakit hati. Siapa yang tak akan sakit hati bila perasaannya diragukan? Apalagi Elsa telah memberikan segalanya kepada Rexan.

"Dari mana kamu?"

Elsa tidak menjawab. Ia mendiamkan Rexan namun tak melarang saat Rexan mengekorinya masuk ke apartement-nya. Lelaki itu pasti baru sadar kalau Elsa tidak di apartement semalaman pagi ini. Dan tujuan Rexan ada di sana pasti untuk mengetahui keberadaannya. Apapun itu, Elsa tak peduli. Entah mengapa ia merasa begitu kecewa kepada Rexan.

"Els," Rexan meraih lengan Elsa, mencegah apapun yang akan gadis itu lakukan supaya tidak mengacuhkannya.

"Apa lagi Rexan?"

"Aku bertanya padamu. Dari mana saja kamu? Kamu pasti tidak pulang semalaman kan? Di mana kamu bermalam? Kenapa kamu tidak memberitahuku? Aku khawatir, Els! Tidakkah kamu mengerti?" Rexan meninggikan nada suaranya.

"Apa itu masih penting untukmu? Bukannya kamu yang menyuruhku untuk tidak mengganggumu?"

Rexan menghela napas, "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan hal seperti itu kemarin. Aku hanya berpikir kalau kamu tidak menginginkan bayi dariku."

"Memang tidak." Elsa berbalik, berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil sobotol air mineral dari dalamnya.

"Apa maksudmu, Els? Jangan membuatku salah paham dalam mengartikan ucapanmu."

"Lalu setelah kamu salah paham, kamu akan mengatakan sesuatu yang bisa menyakitiku. Kamu akan mengusirku lagi dan berkata tidak ingin kuganggu. Itukah yang akan kamu lakukan?"

Gadis ini masih marah. Menghadapi perempuan marah selalu membuar Rexan jengkel. Rasa sabarnya sungguh tipis dan ia yakin Elsa tahu itu.

"Jangan menguji kesabaranku, Els. Aku sudah minta maaf dan menjelaskan bahwa aku tidak bermaksud menyakitimu. Dan aku tahu kamu bertemu dengan ibuku. Apa yang sudah kukatakan tentang itu, Els?"

"Kalau begitu aku juga minta maaf, dan kujelaskan bahwa aku tidak bermaksud untuk menguji kesabaranmu. Tentang ibumu, aku memang bertemu dengannya. Sekarang kumohon jangan ganggu aku. Aku ingin tenang dulu."

Elsa meletakkan botol minuman yang belum tersentuh isinya. Kembali mengabaikan Rexan yang sudah menahan marah. Dia mengambil langkah, namun di langkah pertamanya Rexan meraih lengannya dan mendesaknya ke dinding pembatas antara ruang tamu dan dapur. Dia menjerit kecil karena punggungnya membentur permukaan dinding yang keras dan dingin.

"Sudah kubilang jangan menguji kesabaranku, Ellysa. Jangan bertemu ibuku tapi kamu membangkang!" Rexan berucap dingin di depan wajah Elsa.

Kedua lengannya berada di dalam cengkraman Rexan. Elsa meringis sakit, ia yakin lengannya akan memerah. Ia mendongak, membalas tatapan Rexan dengan sama marahnya.

"Kamu membentakku?! Aku tidak mengerti di mana letak kesalahan-"

"Tindakanmu yang masa bodoh begini malah semakin membuatku yakin kalau kamu tidak mencintaiku, Els. Ibuku bukan orang baik dan kamu tidak tahu itu!"

Elsa menghela napas, matanya muli memerah menahan tangis karena tak terbiasa dibentak oleh Rexan.

"Lepaskan aku. Kita butuh waktu untuk berpikir-"

"Tidak ada yang perlu kupikirkan. Kamu yang perlu disadarkan kalau tidakanmu ini salah. Tidak seharusnya kamu percaya pada ibuku, Els."

"Aku? Jadi ini semua salahku? Kamu bahkan tidak memberiku alasan kenapa aku harus menjuhi ibumu, Rexan!" jerit Elsa tak percaya bahwa dirinya yang disalahkan.

"Jangan meningguikan suara kepadaku, Ellysa." Rexan menghardik, membuat Elsa tersentak dan takut, "Sekarang berhenti bersikap keras kepala dan lupakan semua yang sudah kukatakan kemarin. Berjanjilah untuk tidak bertemu ibuku lagi."

Bibir Elsa bergetar karena tangis yang ia tahan. Bahkan untuk menatap Rexan pun ia tak berani karena kemuraman yang melingkupi ekspresi lelaki itu.
"Terserah kamu saja. Lepaskan aku."

Rexan mengeratkan pegangannya di lengan Elsa, "Kamu tidak mendengarku, Els! Aku tahu kamu tersinggung dengan tindakanku kemarin. Tapi haruskah menjadi masalah serumit ini? Aku bahkan sudah minta maaf! Tentang ibuku, aku hanya ingin menjagamu!"

"Kamu yang membuatnya rumit. Kamu yang meragukan perasaanku! Dan ketakutanmu tentang Bibi, demi Tuhan ibumu tidak menyakitiku!" Elsa terengah-engah. Ia juga bisa marah. Ketika kemarahannya mencapai batas maksimal, tidak ada yang bisa mencegah air matanya mengalir.

"Baiklah! Aku yang salah! Dan aku minta maaf!" Rexan menghempaskan pegangannya pada gadis itu. Dia mengusap wajahnya gusar, lantas menangkup kedua sisi wajah Elsa. "Jangan menangis. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu." bisiknya putus asa, nyaris terdengar seperti orang ketakutan.

Elsa melepas tangan Rexan dari wajahnya, dia menghela napas. Air mata di pipinya ia seka dengan kasar. Sebenarnya, dia iba kepada Rexan. Tapi keegoisannya lebih mendominasi. Rexan harus diberi pelajaran supaya tidak berkata atau berpikir sembarangan tentang perasaannya.

Setelah menatap tepat di kedua mata Rexan, Elsa memilih untuk menyingkir dari tempat itu. Seperti katanya tadi, mereka butuh waktu untuk berpikir.

"Els," panggil Rexan kemudian. Ia memutar badan, tetapi Elsa tidak mendengarnya. Gadis itu telah masuk ke kamarnya, dan terdengar bunyi 'klik' pelan yang menandakan bahwa Elsa mengunci pintu kamarnya.

***


Next: Beautiful Desire - 16

Beautiful Desire - 14

NOT FOR UNDERAGE


Elsa menggenggam testpack di tangannya dengan perasaan senang yang membuncah. Ia yakin Rexan juga akan senang dengan garis yang tertera di badan testpack itu. Hasilnya sesuai dengan yang ia harapkan. Pasti juga sesuai dengan harapan Rexan.

Dia membuka pintu kamar mandi itu, lalu melangkah masuk ke kamar Rexan di mana Rexan juga ada di sana. Lelaki itu duduk di tepi tempat tidur. Harap-harap cemas dengan hasil tes Elsa. Rexan langsung berdiri begitu Elsa muncul dari kamar mandi dengan senyum terkembang.

"Bagaimana hasilnya?"

"Negatif!"

Elsa tak dapat menyembunyikan kelegaan dalam suaranya. Ternyata, mual selama beberapa hari belakangan yang sempat membuatnya khawatir akan kehadiran makhluk mungil di perutnya tidak terjadi. Mungkin ia hanya mual biasa karena melewatkan jam makannya, membuat perutnya kosong lantas merasa pusing dan mual.

Hasilnya negatif. Entah mengapa Rexan merasa kecewa. Harusnya ia ikut senang mengingat jika Elsa hamil maka itu berarti masa depan gadisnya yang menjadi korban. Elsa tidak bisa melanjutkan pendidikannya dan harus menjadi istri dan ibu di usia muda. Itu adalah hal yang sulit dengan usia Elsa yang belia.

Tetapi, melihat betapa senangnya Elsa dengan kenyataan itu mengusik benak Rexan. Apakah Elsa tidak menginginkan anak darinya? Tidak mau menjadi istrinya? Ibu dari anak-anaknya? Rexan tak dapat menampik bahwa ia menaruh harapan begitu besar pada Elsa. Dia ingin Elsa menjadi pendampingnya, istrinya. Ia tak mau kehilangan lagi seperti sebelumnya, ingin segera memiliki Elsa secara sah di mata dunia supaya ia bisa menjaganya dengan leluasa.

Satu kali kehilangan... ah,bukan, tapi dua kali. Dua kali kehilangan perempuan tersayangnya sudah sangat menghancurkan hatinya. Rexan tidak mau kehilangan lagi untuk yang ketiga kalinya. Elsa tidak tahu bahwa Rexan sudah dua kali kehilagan perempuan berharga dalam hidupnya, karena yang Elsa tahu perempuan yang pernah hadir di hidup Rexan hanyalah tunangan lelaki itu. Rexan tidak pernah menceritakannya, dia akan memendam kisah itu seorang diri.

Elsa yang tidak melihat senyum di bibir Rexan mengernyit, "Kamu tidak senang?"

Rexan menghela napas. Memikirkan tentang rasa kecewa atas hasil tes itu dan juga masa lalu tentang kehilangan, membuatnya mendadak pusing.

"Pulanglah dulu, aku tidak ingin diganggu."

"Pulang?"

"Ya, Els. Pulang ke apartemenmu sekarang juga."

Elsa langsung tersinggung mendengar pengusiran itu, "Ada apa denganmu?"

Rexan mengusap wajahnya. Dengan seger diraihnya lengan Elsa dan ditariknya gadis itu keluar dari kamarnya dan ia dorong keluar dari apartemennya.

"Rexan! Apa maksud kamu?" seru Elsa yang merasa heran sekaligus marah atas tindakan Rexan yang tak dapat ia mengerti.

"Aku tidak tahu apa kamu benar-benar mencintaiku atau tidak. Tapi, melihat betapa leganya kamu karena tes kehamilan itu, aku menjadi sedikit ragu. Tidakkah kamu berharap sedikit saja tentang adanya bayi di antara kita?"

"Maksud kamu, kamu ragu dengan perasaanku, begitu? Demi Tuhan, Rex-"

"Sudahlah, Els! Aku hanya menyuruhmu pulang! Aku tidak ingin berdebat!" sela Rexan dan bergegas menutup pntu di depan wajah Elsa.

Elsa membuka bibirnya. Ia terkejut dan tidak menyangka bahwa Rexan bisa bersikap begitu padanya. Kekanakan sekali. Masalah kecil tentang testpack harusnya tidak perlu dibesar-besarkan. Harusnya Rexan senang jika ia tidak hamil, bukan marah. Kecuali bila Rexan memang ingin menghancurkan masa depan Elsa dengan membuat Elsa hamil. Kalau memang begitu, artinya Rexan adalah orang yang picik.

Dan Rexan meragukan perasaannya. Dari kemarahan Rexan yang lain, kalimat bahwa Rexan meragukan perasaannya adalah yang paling membuat Elsa sakit hati. Kurang jelas apa lagi perasaannya kepada Rexan? Elsa sudah memberikan segalanya, segenap kepercayaannya dan bahkan kehormatannya kepada Rexan. Tidakkah Rexan merasakan betapa besar cinta yang Elsa berikan kepada lelaki itu?

Elsa berbalik dari pintu apartemen Rexan. Jika Rexan tak ingin diganggu olehnya, maka ia tidak akan mengganggunya. Elsa ingin melihat seberapa egois Rexan dengan kemarahannya yang tak beralasan sampai menyakitinya.

***

Elsa meraba perutnya. Tidak tahu kenapa dirinya memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan terkemuka tanpa uang lebih di tangannya. Tadi, uang di saku celana jeans-nya hanya cukup untuk membayar ongkos taksi. Memang tersisa beberapa lembar, tapi itu tidak cukup untuk membeli makanan untuk mengganjal perutnya.

Anak seorang pengusaha otomotif kaya tidak punya cukup uang untuk membeli makan. Lucu sekali. Elsa mendengus. Semuanya salah Rexan. Mengingat Rexan, membuat Elsa tidak ingin pulang dan bertemu lelaki itu dan mulutnya yang tajam.

Elsa kembali berjalan, kali ini keluar dari pusat perbelanjaan itu. Langkahnya terhenti begitu melihat seseorang yang tampak tidak asing di matanya. Seorang perempuan. Perempuan itu adalah ibu Rexan. Elsa tersenyum tipis saat ibu Rexan menyapanya dengan seulas senyuman ramah, perempuan itu kini mendekat ke arahnya.

"Kalau aku tidak salah ingat, kau adalah kekasih putraku. Benar?"

Elsa memaksakan tawa kecilnya. Benarkah dia kekasih Rexan?

"Bibi dari mana?"

"Berbelanja sedikit keperluan rumah. Kau sendirian? Di mana Rexan?" Jenny bertanya balik.

Elsa merapatkan bibir dengan jengkel, "Aku sendirian, dia sedang tidak ingin diganggu olehku."

"Ah, anak nakal itu." Jenny berdecak.

Melalui suaranya, Elsa mendengar kasih sayang dari perempuan itu untuk Rexan. Lantas kenapa Rexan begitu menjauhi ibunya? Jenny terlihat seperti orang baik. Elsa tidak punya alasan untu menghindar dari perempuan itu seperti yang pernah Rexan katakan: bahwa dirinya tidak boleh bertemu Jenny lagi.

"Tidakkah anak itu merasa perlu untuk menjagamu? Kejahatan akan datang bila ada kesempatan."

Elsa mengangguk-angguk setuju, "Benar, Bi. Rexan keterlaluan, kami baru saja bertengkar dan dia berkata tidak mau diganggu. Membuatku tidak ingin pulang."

"Bertengkar? Ah, tunggu. Bagaimana kalau kita mengobrol di rumahku saja? Biar anak nakal itu khawatir karena kau tidak pulang."

Elsa mengangguk dengan semangat. Akhirnya dia mendapatkan tempat pelarian yang tepat. Kalau memang Rexan mencarinya, maka Elsa tidak akan membiarkan dirinya ditemukan dengan mudah. Rexan tidak akan berpikir bahwa Elsa ada bersama Jenny.

Rumah Jenny adalah rumah minimalis yang dekat dengan pantai. Dari beranda rumah, Elsa bisa mendengar deru ombak dari lautan. Jenny bilang bahwa rumah itu akan menjadi tempatnya untuk menghabiskan masa tua. Jauh dari keramaian dan tempatnya sangat tenang. Pemilihan tempat yang sangat bagus menurut Elsa.

"Jadi, kenapa kalian bertengkar?" tanya Jenny setelah mengambilkan segelas jus berwarna merah untuk Elsa.

"Aku pun tidak mengerti, Bi. Rexan orang yang sangat temperamental."

"Dia sama seperti ayahnya. Kuharap dia tidak menyakitimu." tutur Jenny muram.

"Maksud Bibi?"

"Tidak. Bukan apa-apa. Bukankah kita belum berkenalan? Namaku Jenny."

"Aku Ellysa, tapi semua orang memanggilku Elsa."

Jenny terkekeh, "Itu terdengar lebih mudah. Nah, Elsa, apa kau lapar?"

Elsa tersipu mendengar pertanyaan itu. Pasti jenny mendengar bunyi perutnya yang taktahu aturan saat di mobil tadi. Memalukan sekali perutnya itu. Tapi, ia memang lapar. Jadi ia mengangguk.

"Kalau begitu ayo kita makan. Aku juga merasa sangat lapar. Kita harus makan sebelum aku memangsamu karena terlalu lapar."

Elsa tertawa mendengan gurauan Jenny.

"Aku serius. Kau tahu, aku bisa menjadi sangat berbahaya jika keadaan memungkinkan."

"Ya, Bibi. Mungkin karena itu Rexan melarangku untuk bertemu denganmu." Elsa tertawa kecil.

"Ya, tentu saja." jawab Jenny lantas menggiring Elsa ke ruang makan.

***


Next: Beautiful Desire - 15

Beautiful Desire - 13

NOT FOR UNDERAGE
WARNING: 21+


Menjelang tengah malam Rexan baru kembali ke apartemennya setelah mendatangi rapat di luar kota yang membahas kerja sama baru perusahaannya dengan perusahaan asing. Ia tak bertemu Elsa sejak tadi pagi, hanya mendengar suara gadis itu melalui telepon. Rexan bisa saja mendatanginya sekarang untuk mengobati rindunya, tapi kemudian ia berpikir mungkin Elsa sudah terlelap dan ia tak mau mengganggunya.

Hei, sejak kapan Rexan peduli dengan ketenangan orang lain? Jawabannya sejak ia mencintai gadis itu. Ia merasa perlu menjaga gadis itu, mengetahui apa saja yang gadis itu lakukan dan berteman dengan siapa saja gadis itu. Poin terakhir adalah karena Rexan tak mau Elsa berteman dengan seorang lelaki, setidaknya seorang lelaki yang juga mengincar gadis itu. Elsa adalah miliknya seorang. Tidak ada yang bisa mengganggu gugatnya.

Rexan menyipitkan mata begitu melihat sesosok tubuh meringkuk di sofa panjang di ruang tamu. Tanpa pikir panjang Rexan membawa tubuh mungil itu ke dadanya dan membopongnya ke kamar. Gadis itu menggeliat kecil lalu kembali meringkuk nyaman setelah Rexan menyelimutinya. Rexan mengulum senyum senangnya sebelum beranjak ke kamar mandi. Elsa sebelum malam ini tak pernah sekalipun mau berada di apartemennya seorang diri. Entah apa alasannya Rexan tak tahu. Tak lama kemudian badannya sudah segar. Ia hanya memakai boxer hitam dan kaos oblong putihnya. Posisi Elsa masih sama seperti sebelum ia mandi, gadis itu memang tak banyak bergerak ketika tidur.

Rexan berjalan ke ruang tamu ketika mendengar derit ponsel, yang ternyata milik Elsa. Gadis itu meletakkan ponselnya di meja. Hanya pesan singkat tak penting dari Kenia yang meminta Elsa datang pagi untuk memberinya contekan. Karena sampai larut malam seperti ini Kenia belum berhasil menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Rexan pun kembali ke kamarnya dan berbaring di sebelah Elsa. Perlahan ia membawa gadis itu ke pelukannya dan memberinya kecupan di kening. Dengan Elsa di dekapannya, Rexan pun terlelap.

Ketika pagi menjelang, Elsa membuka mata. Tanpa perlu bertanya atau kebingungan ia tahu dirinya sedang berada di mana. Di kamar Rexan tentunya. Semalam ia mendadak merasakan rindu yang besar terhadap Rexan, makanya ia mendatangi apartemen lelaki itu. Mulanya ia hanya akan menunggu Rexan pulang lalu kembali ke apartemennya sendiri. Tapi ternyata duduk di sofa dengan wangi Rexan yang nyaman membuatnya tertidur begitu saja. Elsa menutup lagi matanya saat secara tidak sengaja menangkap pergerakan Rexan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk silver yang melilit pinggang. Beberapa bulan bersama Rexan membuat Elsa mempelajari banyak hal tentang lelaki itu. Termasuk kebiasaannya ketika sehabis mandi yang tak langsung berpakaian. Membuat Elsa panas dingin jika melihatnya secara langsung.

Rexan dengan tenang mengurung Elsa dengan menumpukan kedua sikunya di sisi kiri dan kanan Elsa. Ia tersenyum melihat mata gadis itu semakin tertutup rapat. Ujung rambut basahnya menyentuh kening Elsa karena ia semakin menunduk menghapus jarak mereka.

"Breath, baby.." bisik Rexan di depan bibir Elsa yang sedikit terbuka.

Elsa melepaskan napasnya sembari membuka mata, menyerah. Rexan tersenyum menang karenanya. Secara tiba-tiba Rexan menyerang Elsa dengan ciuman di bibir. Gadis itu tergeragap mengikuti. Ketika ciuman mereka terlepas, Elsa terengah sementara Rexan beralih menyerang leher jenjang gadis itu. Rexan menyingkap selimut Elsa dan setengah menindihnya. Mencari posisi yang tepat demi mendengar desahan Elsa. Satu tangannya merayap ke punggung Elsa, membuka pengait bra dan menurunkan cupnya. Dari balik kaos yang masih gadisnya kenakan, ia mengulum putingnya. Membasahi kaos Elsa dengan salivanya.

"R-Rexx.. hh.." Elsa melengkungkan punggungnya.

Napas Rexan yang memberat membelai kulit Elsa yang mendadak menjadi sensitif. Gadis itu melenguh. Gigitan demi gigitan yang lembut bersarang satu per satu di permukaan leher dan pundaknya. Sesuatu yang seperti mengaduk perutnya membuat Elsa meronta, mulai menghindar dari serangan panas Rexan.

"Els," Rexan menegur parau. Lidahnya kini menjelajah telinga Elsa.

"Rex.. mu-mual!"

Rexan terpaku dalam posisinya. Secepat kilat ia membawa Elsa duduk. Benar, bibir gadis itu memutih. Elsa menutup mulutnya dengan telapak tangan dan berusaha berlari ke kamar mandi dengan kaki lemasnya. Pengaruh perbuatan Rexan masih melekat di tubuhnya. Segera saja Rexan mengikuti Elsa, menopang tubuh gadis itu ketika selesai memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Dengan telaten Rexan mengelap bibir Elsa menggunakan tisu.

"Kamu melewatkan makan malammu?" suara Rexan meski beroktaf rendah namun tetap tajam. Ia mendudukkan Elsa bersandar ke kepala dipan.

Begitulah dugaan Rexan melihat Elsa tak memuntahkan apapun kecuali cairan. Gadis itu pastilah melewatkan makan malamnya. Keterdiaman Elsa membuat Rexan makin yakin. Ingin marah tapi tak tega. Kesalahannya juga lupa memperingati Elsa karena terlalu sibuk. Biasanya memang dirinya selalu mengirim pesan atau menelepon dengan ancaman agar Elsa tak melewatkan makannya.

"Aku akan berpakaian dan membuat sesuatu yang bisa kamu makan. Kamu tak usah sekolah hari ini." putusnya dengan nada final.

Elsa memandang Rexan melalui bulu matanya ketika lelaki itu beranjak. Ia menghela napas pelan. Tak ada niat sama sekali untuk membantah perkataan Rexan. Lagipula sekarang ia pusing dan merasa tak bertenaga sama sekali. Mungkin memang akibat dari tak adanya asupan karbohidrat sama sekali di tubuhnya makanya kondisinya down. Elsa beranjak ke kamar mandi, mandi sebentar dan memakai kaos lengan panjang berikut celana olahraga pendek milik Rexan.

Rexan membuatkan Elsa semangkuk besar sup jagung. Lelaki itu mematikan kompor dan menuang sup kentalnya ke mangkuk yang telah ia siapkan. Ia menghampiri Elsa yang sudah duduk manis di kursi makannya.

"Kenapa kamu keluar kamar?"

"Aku hanya mual Rexan, bukannya patah kaki. Kenapa aku harus diam di kamar?" Elsa mencicipi makanannya dan tersenyum senang. Dengan lahap ia menyuapkan sup itu ke mulutnya.

Rexan yang tak ingin mengganggu sesi sarapan Elsa hanya diam. Melihat Elsa yang hampir menandaskan isi mangkuknya membuatnya senang. Tak biasanya Elsa mau menghabiskan makannya tanpa dipaksa.

"Kamu tidak berangkat kerja?"

"Tidak." Rexan menjawab singkat sambil menyorongkan segelas air putih ke hadapan Elsa. Tatapan Rexan masih tajam seperti biasa tapi tanpa bayang menakutkan. Namun begitu tetap saja membuat Elsa merona dan salah tingkah. Di dalam mata itu Elsa melihat banyak hal yang didominasi oleh.. gairah.

"Aku akan kembali ke kamar.. dan beristirahat." Elsa menggumam pelan.

Rexan mengikuti Elsa dengan jarak yang begitu dekat. Aroma tubuh gadis itu seperti aromanya, Elsa menggunakan sabun mandi dan juga shamponya. Dan mengenakan pakaiannya. Elsa terlihat begitu seksi di mata Rexan. Rexan tak pernah menemukan libidonya tak menanjak tiap berada di depan Elsa.

Elsa meraih gagang pintu dan Rexan meraih pinggang gadis itu, membekukan geraknya. Rexan maju selangkah sambil menarik Elsa mundur membentur tubuhnya. Ia menunduk dan membenamkan wajah di perpotongan pundak dan leher Elsa. Tanpa membuang waktu Rexan meloloskan celana yang melekat di tubuh Elsa. Gadis itu tanpa pakaian dalam tentu saja.

"Rexan.."

Kaos Elsa pun telah raib. Rexan tak mengulur waktu segera menelanjangi dirinya sendiri. Ia membalikkan tubuh Elsa dan menyandarkannya ke dinding di samping pintu. Sebelah tungkai Elsa ia lingkarkan di pinggangnya dan dibenamkannya kejantanannya di liang Elsa yang sudah siap menerimanya.

"Ohh.. Ya Tuhan.. kamu terburu-buru sekali.." desah Elsa memprotes.

"Dan kamu menikmatinya Els. Kamu menyukai milikku berada di dalammu."

Pinggul Rexan terus bergerak menghentak Elsa ke dinding sedang tangan dan bibirnya tak bisa tinggal diam. Ia mencium Elsa, meraba tubuh gadis itu, meremas payudara dan bokongnya juga sesekali mengusap klitnya. Membuat desahan Elsa semakin mengencang. Elsa mengalungkan lengan di leher Rexan ketika tubuhnya terangkat. Rexan membawa Elsa ke pangkuannya, duduk di ruang tamu.

"Bergerak, sayang."

Elsa melakukannya. Mengangkat pinggul dan menurunkannya dengan hentakan. Kejantanan Rexan tenggelam semakin dalam, serasa membentur mulut rahimnya.

"Aahh Rex.. Rexan.."

Rexan menyusu di puting gadis itu, menghisapnya dengan kuat setelah mengulumnya. Ia memberi jilatan di belahan dada Elsa, berputar mengikuti lingkar payudaranya yang semakin berisi. Dinding vagina Elsa ia rasakan berkedut. Karenanya, ia mulai mengambil kendali. Ia menghempaskan Elsa ke sofa, di bawahnya dan mulai memompanya. Membuat Elsa mengerang nikmat.

"A-aku.. ahh.. Lagi.. Lagi.."

Rexan memberinya lagi, "Bersamaku, sayang. Berikan padaku." ia merengkuh Elsa setelah beberapa kali hentakan keras dan dalam. Kejantanannya ia biarkan berdenyut di dalam Elsa, menggabungkan cairan mereka di sana.

"Ahh.. hh.. hhh.."

"Ah sayang," Rexan mengeluarkan dirinya, mengusapkan sisa cairan di ujung kejantanannya ke sepanjang vagina Elsa yang mulus. Ia mendudukkan dirinya bersandar dan Elsa beringsut ke pelukannya. Bermanja di dadanya.

"Kamu tidak memakai pengamannya lagi."

"Aku sudah tidak mempunyainya, Els. Benda itu tak penting lagi, kan?"

"Itu penting." Elsa melanjutkan dengan lirih, "Aku tak mau hamil di usia muda.."

Rexan mengecup puncak kepala gadis itu, mendongakkannya dan mengecup keningnya. "Tidak ada yang perlu kamu takuti Els. Aku menjagamu. Percaya padaku."

Elsa melepas napas pelan. "Ya.."

***


Next: Beautiful Desire - 14

Beautiful Desire - 12

NOT FOR UNDERAGE
WARNING: 21+


Oh Tuhan.

Elsa memejamkan mata pasrah. Entah apa yang terlintas di pikirannya hingga dengan mudah ia mengikuti perintah Rexan untuk ke kantor lelaki itu sepulang sekolah. Rexan dan pengaruhnya ternyata tak terlalu bagus untuk Elsa.

"Ah!" Elsa menjambak rambut Rexan, mendorong kepala lelaki itu ke lehernya yang mendamba.

"Milikku." Rexan mendesis di telinganya. Lengannya dengan possesif memeluk tubuh Elsa di pangkuannya. Gadis itu jelas bisa merasakan betapa Rexan menginginkan sesuatu di balik celana dalamnya.

Kemudian, bibir Rexan kembali bertemu bibirnya. Menciumnya keras, bergairah. Tak cukup sampai di situ, Rexan memanjakan Elsa dengan remasan lembut di payudara. Dan Elsa kembali melenguh karenanya.

"Oh Elsa, Elsaku, milikku," Rexan menyatukan kening mereka. Menggosokkan pucuk hidung mereka. "Buka matamu."

Biru itu redup, semakin menggoyahkan pertahanan diri Rexan yang sudah hampir hancur. Dan Rexan kembali menautkan bibir mereka dalam sebuah ciuman dalam.

Elsa memundurkan kepala terengah-engah. Bibirnya panas, seluruh tubuhnya panas oleh percikan gairah yang Rexan nyalakan. Pintu diketuk dan Elsa buru-buru mengaitkan branya kembali dan mengancingkan seragam. Hal itu dihadiahi senyuman geli Rexan.

"Masuk." gumam Rexan sembari mengetatkan pelukannya agar Elsa diam di pangkuannya. Gadis itu dengan segera menyembunyikan wajah di dadanya ketika pintu dibuka.

Emilia masuk dan wajahnya bersemu melihat bosnya tengah memangku gadis itu, namun begitu ia tetap tersenyum profesional dan menyampaikan maksudnya. "Mr. Nasuma telah menunggu untuk meeting Pak."

Rexan mengangguk, sebelum menjawab ia lebih dulu berbisik di telinga Elsa. "Kutinggal sebentar?" dan gadis itu, yang belum pulih dari malunya hanya mengangguk.

"Aku akan ada di ruang meeting dalam lima belas menit."

"Baik Pak."

Setelah mendengar pintu ditutup, barulah Elsa mengangkat wajah. Rexan dengan lembut membelai wajah gadis itu, ibu jarinya di bibir bawahnya dan matanya kembali berkabut.

"Ini hari ke tujuh," gumam Rexan serak.

Elsa menahan napasnya. "Ya," bisiknya membenarkan.

Rexan mendekap kembali gadis itu ke dadanya. "Oh, sayang. Aku berjanji kita akan bercinta. Dengan keras dan intens. Kamu dengar? Keras dan intens."

"Ya."

Rexan mengulum senyum main-mainnya ketika berkata, "Aku yakin vaginamu sudah siap untukku. Tunggu aku sekitar empat puluh lima menit dan kita pasti bercinta."

"Ya," jawab Elsa terengah. "Empat puluh lima menit."

***

"Apa kamu tau seberapa cantiknya dirimu hm?" Rexan menanamkan ciuman di punggung Elsa.

"Tidak."

"Oh kamu sangat cantik sayang. Dan kamu milikku. Menungging cantik!" Rexan memukul pantat gadis itu dan Elsa memekik. Ia menahan berat tubuhnya dengan menumpukannya di kedua siku, payudaranya bergelantungan dengan indah. Pucuk hidung Rexan di bibir vaginanya dan Elsa melenguh.

Lelaki itu membuka bibir vagina Elsa dengan jemarinya, lalu mengecupnya ringan. Satu jarinya menyelip masuk kemudian berputar.

"Rexan, please.." Elsa menggoyang pinggulnya, tak tahan dengan gerakan memutar Rexan yang terlalu pelan. Menyiksa.

"Ssh, diam Els. Atau ini akan semakin lama." dijilatnya vagina Elsa rakus, sedikit menekan di bagian keras seperti biji kacang hijau gadis itu.

Rexan yang tiba-tiba menjauh membuat Elsa mendesah kecewa, tapi kemudian gadis itu mengerang nikmat saat Rexan menyatukan dirinya dari belakang dan menghentaknya keras, cepat dan dalam.

"Rexan, pengamannya!" Elsa menjerit.

"Aku benci benda itu! Ohh, kamu sangat nikmat!"

Elsa memutar pinggul, menyentak berlawanan hingga milik Rexan tenggelam lebih dalam. Oh ya ampun.. keluar.. masuk.. keluar.. masuk.. nikmat sekali..

"Datanglah Els! Berikan padaku!"

Elsa mengejang, desahan kencangnya menggema di kamar Rexan. Dan Rexan melonglong nikmat dari tenggorokannya saat ia menyusul orgasme Elsa yang memukau. Ia berguling, menarik Elsa ke lengannya lalu memeluknya erat.

"Terimakasih, aku mencintaimu Els." Rexan memegang dagu Elsa dan mulutnya bertemu dengan mulut gadis itu yang terbuka. Elsa terengah ketika Rexan menggosok pucuk hidungnya dengan hidung lelaki itu. "Aku tidak tau kapan perasaan ini tumbuh. Mungkin saat pertama kali aku menciummu, bercinta denganmu atau melihat kamu. Atau saat tiba-tiba kamu menghindariku. Aku butuh kamu. Aku tak ingin kamu pergi Els, jangan pernah pergi dariku atau aku sendiri yang akan mengikatmu di sisiku."

Elsa memberanikan diri menyentuh pipi Rexan, lelaki itu menikmati dengan mata tertutup. Menangkup tangan Elsa agar tetap berada disana.

"Aku tidak Rexan. Aku tak akan pergi." bisiknya tercekat. Bagaimana ia bisa pergi kalau ia telah lebih dulu mencintai Rexan? Dan mendengar lelaki itu juga mencintainya terasa.. indah.

"Kamu milikku."

Senyum Elsa melebar, "Ya Rexan, ya."

"Ya ampun." Rexan terkekeh, "Apa yang kamu lakukan padaku Elsa?"

Tak ada jawaban berarti dari Elsa karena apa yang Rexan tanyakan hanyalah bentuk ketidakpercayaan lelaki itu bahwa dirinya sudah seperti remaja labil yang baru merasakan cinta. Cinta yang benar-benar cinta. Rexan tak hanya mencintai tubuh Elsa, tapi semua yang ada pada diri gadis itu. Jangan tanya mengapa Rexan mencintainya karena Rexan pun tak bisa menelaah apalagi memaparkan alasannya. Setelah beberapa tahun berlalu, akhirnya Rexan jatuh cinta lagi. Terhadap seorang gadis mungil yang kini terlelap di pelukannya.

Oh, tidak. Elsa tak tidur. Gadis itu hanya memejamkan mata. Rexan mengecup bibirnya dengan keras dan mata gadis itu terbuka. Kecupan itu disusul lumatan-lumatan dalam yang berlangsung lama. Elsa dengan sendirinya melingkarkan sebelah kakinya ke pinggang Rexan dan Rexan mendorong pinggulnya maju. Kejantanannya kembali tenggelam di liang hangat Elsa. Keduanya mendesah bersamaan.

Dan, ya, mereka terjatuh dalam jurang kenikmatan. Lagi.

***


Next: Beautiful Desire - 13

Beautiful Desire -11

NOT FOR UNDERAGE


"Princess, apa putra Reagan itu bersamamu?"

Elsa memutar bola matanya jengah. Sejak ia menelepon ayahnya setengah jam yang lalu, ini sudah kali ke empat ayahnya bertanya hal itu. Dan jawabannya pun sama. "Tidak Dad. Sudah berapa kali aku mengatakannya?"

"Baiklah. Baiklah." ayahnya tertawa. "Sekarang Dad percaya, Dad hanya memastikan sayang. Kamu tau, Dad bersahabat dengan ayahnya. Dad hanya berasumsi kalau ia sama mesumnya dengan Reagan muda."

Ia memang sama mesumnya Dad!

"Ibumu ingin berbicara."

Tanpa sadar Elsa menjawab dengan anggukan.

"Ayo kita berbicara dengan cara perempuan."

Elsa terkikik, "Memangnya apa yang akan Mom bicarakan denganku?"

"Menyangkut hal penting tentang Rexan, baby. Kamu sudah tidur dengannya?"

Elsa terkadang tak suka dengan sifat blak-blakan ibunya. Ketika berbicara dengan ibunya, ia selalu tak memiliki privasi. Kalau dipikir-pikir ibunya itu hampir mirip dengan Kenia.

"Mom sudah tau jawabannya. Apa ia memakai pengaman?"

Elsa mengerutkan bibir mengingat-ingat. "Ya Mom, sepertinya begitu."

"Baguslah. Ingatkan ia untuk selalu memakai pengaman. Mom tidak mau kamu hamil di usia muda baby. Lalu, apa kamu mencintainya?"

"Aku mencintainya Mom. Apa itu bagus?"

"Ya, kamu harus bisa membuatnya mencintaimu juga. Kalau ia tak kunjung membalas, tinggalkan saja. Mengerti?"

Elsa sedikit tak setuju dengan ucapan ibunya. Meninggalkan Rexan? Apa bisa?
Dan yang sedang menjadi topik pembicaraan kini sudah memeluknya dari belakang. Entah kapan lelaki itu masuk ke apartementnya.

"Ya sudah Mom, nanti kuhubungi lagi. Aku mencintaimu."

"Mom juga baby."

Elsa memutar badannya dan mundur. Membiarkan Rexan menghimpitnya ke pagar balkon. Ia melihat tatapan redup lelaki itu yang berarti sedang bergairah. Tiba-tiba timbul di benaknya untuk mengusili Rexan yang mesum.

Dimulai dengan menggigit bibir bawahnya, kedua tangan Elsa kemudian meraba dada hingga perut Rexan.

"Kamu kemana saja?" ia bertanya dengan suara seraknya, menghindar halus ketika Rexan memajukan wajah untuk menciumnya.

"Tanganmu Els." Rexan mengerang tanpa menjawab pertanyaan Elsa. Pasalnya, tangan gadis itu semakin berani dengan mengusap gundukan di celananya, terkadang meremasnya pelan.

"Kamu bergairah."

Rexan menenggelamkan kepala di leher Elsa. Mendesah berat disana. Lengan kokohnya semakin erat memeluk gadisnya. Hanya dengan tangannya saja, gadisnya sanggup membuatnya ingin orgasme.

"I want you." bisik Rexan dengan suara rendahnya.

"Me too. Tapi aku sedang datang bulan."

Seketika saja Rexan mundur dua langkah. Matanya dengan tajam menatap gadisnya yang mengerjap dan tersenyum polos.

"Kamu menggodaku di saat sedang datang bulan Els?" tanyanya tak percaya, setitik kemarahannya tersulut. "Bagus sekali."

Elsa tertegun menyadari kemarahan Rexan. Ia mulai kalut, apa tindakannya keterlaluan? Tentu saja iya! Rexan lelaki dewasa dengan libido tinggi bodoh!

Disusulnya Rexan yang rupanya tengah menenggak air dingin dengan rakus di depan lemari pendingin. Rasa bersalah yang makin menjadi membuat Elsa ingin menangis.

"Rexan.." panggilnya lirih.

"Menjauhlah dariku Els. Aku tengah mengontrol diriku sekarang." Rexan menutup pintu kulkas dengan bantingan.

Entah kenapa Elsa merasa kehadirannya kini ditolak oleh Rexan. Apalagi lelaki itu melewatinya begitu saja untuk kembali ke apartementnya sendiri. Terlebih lagi sikapnya dingin sekarang. Air mata Elsa meluruh, sifat cengengnya memaksanya untuk menangis.

Elsa mengikuti Rexan ke apartement lelaki itu dan langsung menubruknya dengan pelukan erat.
Rexan yang hilang keseimbangan karena gerakan tiba-tiba Elsa sedikit terhuyung. Beruntung di belakangnya itu dinding jadi ia bisa menahan keseimbangan tubuhnya dengan bersandar disana.

"I'm sorry, I'm so sorry. Aku tidak tau kalau itu keterlaluan dan membuatmu semarah itu padaku."

Gadisnya menangis. Rexan menarik napas lelah. "Sudahlah, tidak apa-apa."

Elsa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu boleh menghukumku. Apapun itu aku bersedia. Tapi jangan acuhkan aku, aku.. tak bisa.."

"Aku tak pernah mengacuhkanmu Els. Kamu tau itu dengan pasti. Sekarang pulanglah, ini sudah malam. Jangan sampai kamu terlambat datang ke sekolah." dihapusnya air mata gadisnya lalu dikecupnya keningnya lembut.

"Kamu masih marah?" tanya Elsa sedih.

"Aku tak marah. Aku hanya tak ingin menyakitimu karena gairahku yang tak terkendali."

"Aku mau tidur denganmu."

Oh, tak cukupkah Elsa menyiksanya dengan 'datang bulan'nya yang sangat mengganggu itu?

Rexan meremas kedua pundak Elsa dengan tangannya, "Sayang, aku masih ada pekerjaan. Kalau kamu mau tidur di sini, langsung ke kamar, oke?"

"Lalu kamu?"

"Aku di ruang tamu. Nanti, setelah aku selesai, aku akan menyusulmu."

"Baiklah."

Elsa langsung pergi ke kamarnya. Itu membuat Rexan sedikit banyak merasa lega. Dia pergi ke ruang tamu di mana laptopnya tadi ia tinggalkan untuk menemui Elsa. Dia duduk di depan laptopnya yang masih menyala. Karens yang harus dikerjakan hanya mengecek beberapa email masuk, jadi pekerjaan itu hanya berlangsung beberapa menit sampai kemudian selesai.

Rexan masih duduk di sana, menghela napas dengan berat. Ia masih memikirkan tentang keamanan gadisnya. Ia tahu, menjalin hubungan khusus dengan seorang gadis, sudah pasti akan membahayakan keadaan gadis tersebut. Seperti yang terjadi pada tunangannya dulu.

Oleh sebab itu, Rexan harus berhati-hati. Ancaman sudah berada di depan matanya. Bila salah menjaga Elsa sedikit saja, Rexan tak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Ia mencintai Elsa, itu sudah jelas. Cincin yang ia sematkan di jari Elsa adalah salah satu bukti keseriusannya. Itu adalah cincin turun-temurun keluarganya, dulu ayahnya yang memberikan itu padanya.

Sesaat kemudian, kedua lengan yang sudah sering memeluknya melingkari lehernya dari belakang.

"Kenapa belum tidur?" Rexan menegur.

Elsa berputar melewati sofa dan duduk di sebelah Rexan, dia menyandarkan kepalanya dengan manja di pundak lelaki itu. Lama ia terdiam sampai bibirnya terbuka untuk berbicara dengan Rexan.

"Rexan, kenapa kamu tidak tinggal dengan ibumu?"

Ekspresi Rexan mengeras, namun dalam sepersekian detik kembali normal, "Kenapa kamu ingin tahu?"

"Apa tidak boleh?" Elsa mendongak dengan wajah bingung yang menggemaskan.

Rexan menyeringai penuh arti, "Cium aku untuk jawaban yang kamu inginkan."

Elsa menyetujui dengan cepat. Ia meraih rahang Rexan, setengah menegakkan punggungnya dan mencium Rexan dengan lembut. Rexan tersenyum dalam hatinya, diraihnya pinggang Elsa untuk kemudian mengambil alih kendali ciuman mereka. Tidak bercinta, tapi Elsa masih bisa memuaskannya dengan cara lain bukan?

Segera setelah Rexan mencumbu leher dan membelai payudaranya, Elsa menjadi terlena. Posisinya berpindah ke pangkuan Rexan. Bibirnya masih ditawan oleh lelaki itu dalam ciuman mereka yang intens.

Dan Elsa melupakan pertanyaannya begitu saja...

***

Beautiful Desire - 10

NOT FOR UNDERAGE


"Are you crazy?!"

Itu adalah tanggapan pertama dari Kenia setelah Elsa menceritakan alasan mengapa wajahnya cerah hari ini. Elsa menduga mungkin saja Kenia memiliki bakat menjadi detektif dilihat dari betapa pekanya sahabatnya itu terhadap sekitarnya. Terutama terhadap apa yang terjadi dengan Elsa.

"El, kamu tau sendiri ia manusia paling bejat di dunia. Ia yang sudah memperkosa kamu sekarang kamu terima begitu saja kehadirannya, bahkan menyambutnya dengan senang hati! Dimana pikiranmu sebenarnya?!"

Elsa menunjukkan wajah merengutnya. "Aku tidak tau Ken. Hanya saja.. aku.. menikmati kehadirannya di hidupku."

Mata Kenia menyipit. "Apa kamu.. mencintainya?"

Elsa terdiam.

"Kamu mencintainya El?"

"I think, I am."

Kenia menggeleng tak percaya. Sudut matanya menangkap kilauan ketika Elsa menyelipkan rambut ke balik telinganya. Segera saja ia menarik tangan kanan Elsa, membuat si empunya tangan bingung.

"Ini. Cincin ini. Dari mana kamu mendapatkannya?"

Elsa menelengkan kepala melihat cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya, kemudian mengernyit. Seingatnya ia tak pernah mengenakan cincin itu. "Entahlah, mungkin aku membelinya." jawabnya acuh.

Kenia mengerang frustasi. Ia merenggut paksa cincin itu dari jari Elsa lalu menelitinya. Cincin itu berwarna putih tanpa corak apapun. "Reagan." gumamnya membaca ukiran nama di sisi dalam cincin.

Kemudian Elsa teringat bahwa semalam ketika ia sudah akan terlelap, Rexan menyematkan benda itu di jarinya lalu mengecupnya dan membiarkannya tidur.

"Itu nama.. Rexan.." Elsa tersenyum senang.

Kenia mengembalikan cincin itu. "Aku tak tau harus berkata apa. Kemarin kamu seperti orang kehilangan jiwa, dan sekarang tiba-tiba kamu kembali mendapatkan semangat hidupmu. Mungkin saja kamu memang mencintainya. Kamu memang gila El."

Elsa tertawa kecil menanggapinya. Ah, ia mencintai Rexan...

"Kamu melihat berita pagi ini?"

Elsa menggeleng. Sedikit heran mengapa Kenia begitu mudah mengalihkan topik bahasan.

"Aku sudah menduganya. Kamu memang terlalu sibuk dengan ranjang Rexan."

Elsa mendengus, namun tak urung wajahnya merona. Bukan ia tak tahu apa maksud sahabatnya itu. 

Kenia vulgar sekali!

"Velin dan Rindy ternyata bersaudara. Mereka ditemukan di pinggir jalan dalam keadaan telanjang dan penuh luka. Kepolisian menduga mereka menjadi korban pemerkosaan." sambung Kenia lagi.

Elsa tampak terkejut, sama terkejutnya dengan Kenia tadi pagi saat menonton berita di televisi.

"Tapi pelakunya belum ditemukan. Dan sepertinya polisi sudah menyerah mencarinya."

"Bagaimana bisa polisi menyerah sebegitu cepatnya?!" Elsa meninggikan suaranya.

"Entahlah. Apakah sepenting itu untukmu kalau polisi menyerah?"

"Tidak juga. Tapi kan harusnya tidak seperti itu."

"Biar saja seperti itu. Anggap saja itu balasan untuk Rindy dan Velin karena sudah menyakitimu. Kamu tak ingat karena ancaman mereka kamu menjadi korban Rexan?"

Elsa mengangguk-angguk. "Sudahlah, jangan bahas itu lagi."

"Ellysa!"

Elsa menoleh dan terkejut.

***

Gadismu begitu segar dan terlihat lezat. Bukankah ia sedang bersekolah?

Rexan mengumpat marah setelah membaca pesan itu. Orang gila itu apa sedang mengancamnya? Elsa sedang di sekolah, jauh dari pengawasannya. Lengah sedikit saja, gadis itu akan berada dalam bahaya. Rexan mengambil kunci mobilnya. Memerintah Emilia untuk membatalkan seluruh meeting pentingnya hari ini dengan suara yang menyerupai geraman.

Mobilnya melaju kencang membelah jalan raya. Pikirannya penuh dengan nama Elsa. Sialan sekali gadis itu menyita seluruh akal sehatnya. Ia sampai di pelataran parkir. Langsung mengayun langkah menuju tempat dimana Elsa berada tiap jam istirahat. Tanpa peduli tatapan ingin tahu seluruh penghuni sekolah yang dilewatinya. Dan ia melihat gadis itu disana bersama temannya, tanpa satu kekurangan pun.

"Ellysa!"

Rexan melihat keterkejutan gadisnya. Dengan langkah lebarnya ia mendekat dan memeluk Elsa begitu saja. Ia menghirup aroma gadisnya dengan rakus, merasakan kelegaan menyelimuti dadanya.

Tanpa membiarkan Elsa bertanya dan mencerna apa yang terjadi, Rexan sudah menahan tengkuk gadis itu lantas menciumnya lembut. Ia mengerang ketika Elsa terbuai dan membalas ciumannya. Sambutan yang sangat menyenangkan.

"Bisakah kalian berhenti berciuman dan mengingat kehadiranku disini?!" pekik Kenia kesal dengan wajah merah padam. Malu sendiri melihat adegan ciuman panas sahabatnya. Beruntungnya mereka sedang di atap sekolah, jadi kemungkinan besar tak ada yang melihat perbuatan Elsa dan Rexan.

Seperti tersadar, Elsa menarik kepalanya mundur hingga tautan bibirnya dengan Rexan terlepas. Ia tersenyum kikuk dan Kenia membalasnya dengan dengusan jengah. Sementara Rexan tetap tenang dengan kedua tangan masih berada di pinggang Elsa, tatapannya pun lurus ke arah gadisnya.

"Sebaiknya aku masuk kelas." kata Kenia malas.

Elsa menghela napas. "Kamu membuatku malu di depan Kenia. Ada apa?"

"Tidak ada." Rexan terlihat acuh. "Hanya merindukanmu."

Semburat merah menghiasi wajah Elsa dan Rexan tersenyum miring melihatnya. "Kamu tau, aku pernah berfantasi liar dengan memasukimu disini. Mau membantuku mewujudkannya?"

Elsa merengut. "Kamu berkata seakan mengajakku untuk membeli es krim. Sudahlah, aku mau ke kelas juga. Kamu pulang saja."

Rexan tersenyum simpul sebagai bentuk mengalah. "Aku akan menunggumu di mobil." diberinya satu kecupan lembut di kening Elsa sebelum gadisnya itu berlalu.

***

Next: Beautiful Desire - 11

Beautiful Desire - 09

NOT FOR UNDERAGE
WARNING: 21+


Elsa membuka matanya dan langsung berjengit ketika bertatapan langsung dengan mata tajam itu. Ketakutan menggumpali dadanya, membuatnya sesak dan ingin menangis.

"R-Rexan.."

Rexan tersenyum sendu. "Jangan takut padaku Els. Kenali sentuhanku."

Elsa menahan napas. Tangan Rexan yang membelai tubuhnya membuat ia sadar kalau mereka telanjang bulat. Buruknya, Rexan tengah menindihnya dengan kejantanan yang siap meluncur ke kewanitaannya.

"Maafkan aku Els. Maafkan kekejamanku yang melukaimu tanpa perasaan." lelaki itu berbisik penuh penyesalan di depan bibir Elsa. "Biarkan aku menebusnya dengan kelembutanku Els. Kita akan benar-benar bercinta malam ini."

"Ahh.." kejantanan Rexan memasukinya. Harusnya Elsa menghindar. Tapi hati kecilnya memintanya untuk merengkuh kenikmatan yang Rexan tawarkan melalui pemujaan terhadap tubuhnya.

"Dengarkan ini sayang. Aku, Rexan Abimanyu Reagan menginginkanmu menjadi milikku Ellysa."

"Aku.. ahh.. Rexan.." Elsa menyentak kepalanya ke belakang. Perlakuan lembut Rexan membuatnya terombang-ambing dalam kenikmatan.

Ketika penyatuan mereka selesai, Rexan kembali membuai Elsa di dalam pelukannya. Dikecupnya pergelangan tangan Elsa yang ia genggam. Tanpa diketahuinya, gadisnya mengukir senyum dalam lelapnya. Tanpa Elsa sempat mencegah, Rexan tak hanya berhasil memasuki kehidupannya. Namun juga hatinya yang baru saja sadar telah mengenal Rexan sebagai pemiliknya.

***

"Bangun pemalas. Kamu harus pergi ke sekolah hari ini." Rexan mengecup bibir Elsa berkali-kali.

Elsa menggeliat dalam tidurnya, merasa sangat terganggu. Ayolah, biarkan Elsa tertidur sebentar lagi. Ia begitu lelah, mulai dari kemarin pagi ia tak berhenti menangis. Dan malamnya dilanjutkan dengan percintaan yang dilakukannya dengan Rexan. Tak bisakah Rexan berhenti mengganggu istira.. Tunggu. Rexan?

Elsa langsung terjaga. Kedua matanya terbuka lebar.

"Kamu semakin lucu saat terkejut seperti itu." Rexan berdiri menjulang di samping Elsa. Rupanya lelaki itu sudah rapi, tapi kenapa memakai jas?

"Aku akan mengantarmu ke sekolah sebelum ke kantor."

Elsa menarik selimutnya semakin ke atas, menyisakan matanya yang terlihat. Ia tak nyaman berada di bawah tatapan lapar Rexan. Itu membuatnya malu.. dan bergairah. Astaga!

"Aku akan menunggumu di luar." ujar Rexan serak.

Tak butuh waktu lama bagi Elsa untuk bersiap-siap. Satu jam kemudian ia sudah keluar dari kamar dalam keadaan rapi dan segar. Ia melihat Rexan duduk bersandar di sofa sambil menyilang kaki.

"Aku, eh, sudah siap." Elsa mendekat.

Rexan menyeringai, "Untuk bercinta? Aku juga siap."

Elsa mengerutkan bibirnya dan memutar bola mata jengah. "Apa yang ada di pikiranmu hanya selangkangan seorang wanita?"

Tawa Rexan berderai. "Selangkanganmu lebih tepatnya sayang. Ayo pergi sebelum aku benar-benar menerkammu."

Mereka hanya berdua di dalam lift. Rexan yang tiba-tiba menarik tali rambutnya hingga rambutnya tergerai membuat Elsa menoleh. Tak mengerti dengan apa yang Rexan lakukan.

Rexan hanya memeluk Elsa dari belakang dengan dagu yang ditumpu di pundaknya. "Leher cantikmu hanya aku yang boleh menikmatinya." kemudian lelaki itu mengendus aroma yang menguar dari rambut panjang Elsa. "Kamu manis sekali. Boleh aku menciummu?"

"Kamu mesum sekali!"

Pintu lift terbuka dan Elsa segera melepaskan diri, hanya untuk kembali terhuyung ke belakang karena menabrak sesuatu. Seseorang lebih tepatnya.

"Maaf, maaf Bibi. Saya tidak sengaja." gumam Elsa sambil berkali-kali menunduk.

"Rexan,"

Rexan menarik Elsa ke pelukannya. "Untuk apa kau kemari?"

"Menemui putraku. Apa salah?"

Elsa mendongak untuk mengetahui ekspresi Rexan, ia tak mengerti mengapa air muka Rexan menjadi keras padahal lelaki itu tengah berbicara dengan ibunya.

"Gadis di pelukanmu, cantik sekali. Kamu tak berniat memperkenalkannya padaku, putraku?"

"Jangan pernah mengusik gadisku Ibu!"

Elsa mendengar tawa yang mengalun anggun. "Apa yang kamu pikirkan hingga mengira ibumu ini akan mengusik kehidupan gadismu Rex? Ibu hanya ingin mengenalnya."

Tanpa sadar Elsa menganggukkan kepalanya setuju. Merasakan gerakan kepala Elsa itu, tubuh Rexan menegang. Tawa kecil ibunya semakin menjadi.

"Ibu pikir gadismu tak kan keberatan kalau kita bertemu lagi nanti." perempuan yang Rexan panggil ibu itu memutar badan dan melangkah menjauh sampai tak lagi terlihat oleh matanya.

"Rexan, sesak.." keluh Elsa sebal karena Rexan tak kunjung melepasnya.

Rexan menghembuskan napas gusarnya. "Kamu tak boleh bertemunya lagi sayang. Dan jangan tanya kenapa."

***

Next: Beautiful Desire - 10

My Step Brother - 6 (Ending)

Chapter 6 ( Ending) Dua hari kemudian Bian membuka akun instagramnya. Gerahamnya segera saja bergemeletuk menahan geram ketika menda...